Pekan lalu di sekolah Rosa diadakan pertemuan orang tua murid. Kebetulan Rosa bersekolah di sebuah Madrasah Ibtidaiyah yang pendidikannya berfokus pada Tahfidzul Qur’an. Seorang Bapak mengkritik sekolah karena anaknya yang baru saja naik ke kelas II sudah hafal banyak surah tetapi belum bisa ngaji. Di pihak lain, seorang Ibu mengatakan bahwa itu bukan kesalahan sekolah, orang tualah yang punya kewajiban untuk mengajarkan anak membaca Al Qur’an. Akhirnya terjadi sedikit perdebatan diantara keduanya. Setelah perdebatan mereda, seorang Bapak berkata :
“Saya menyekolahkan anak saya di sekolah ini, karena menurut saya sekolah inilah yang terbaik untuk mereka. Bahkan bila anak saya ditolak di sekolah ini, saya akan merengek kepada para guru agar mau menerima mereka bersekolah di sini. Seandainya saya punya banyak uang, saya akan membuat sekolah khusus untuk anak saya agar saya selamat di akhirat nanti, karena sayalah yang akan ditanyai mengenai anak-anak saya, bukan gurunya. Maka jika sekolah ini tidak memberikan segala sesuatu sesuai harapan saya, itu bukan kesalahan para guru. Semua itu adalah kesalahan saya sebagai orangtua yang memilihkan sekolah ini untuk mereka”.
Kurang lebih begitulah inti pembicaraannya. Dan setiap kalimat yang terucap dari mulutnya membuatku merenung. Betapa banyak orang tua yang menyalahkan guru ketika anaknya mengalami kesulitan dalam belajar. Sebagian orang tua (mungkin sayapun termasuk di dalamnya) menganggap bahwa ketika mereka memasukkan anak ke sekolah, membayar uang sekolah, dan membelikan segala perlengkapan belajar berarti tugasnya dalam mendidik anak telah beres. Orang tua hanya perlu menitipkan anak ke sekolah dan mereka tidak mau tahu lagi soal proses belajar mengajar di sekolah dan mereka berharap sekolah akan membentuk anak-anak mereka menjadi anak yang cerdas, shaleh, dll sesuai harapannya. Seolah-olah guru adalah makhluk luar biasa hebat yang tahu segala hal dan harus tahu segalanya.
Terima kasih buat Abinya Jundi yang telah mengingatkan kami, khususnya saya, bahwa anak adalah tanggung jawab orang tua, apapun yang terjadi dengan mereka, orang tualah yang akan ditanya pada hari akhir nanti, bukan guru yang mengajar mereka di sekolah, bukan pula nenek, tante, atau baby sitter yang mengasuh mereka di rumah ketika orang tua bekerja dengan dalih demi anak-anak.
Bunda Salsa's Blog
Great Mom Wanna Be........
Minggu, 25 Juli 2010
Kamis, 20 Mei 2010
Yuk...Jadi Tempat Curhat Terbaik untuk Anak Kita !
Copas dari milis PSPA.... semoga bermanfaat....
Ditulis oleh Ihsan Baihaqi Ibnu Bukhari,Direktur Auladi Parenting School/Master Trainer Program Sekolah Pengasuhan Anak (PSPA)
Curhat, sarana yang sederhana, ternyata dapat membuat anak-anak kita bisa memiliki daya tahan mental lebih baik terhadap lingkungan (negatif). Setidaknya itu yang dipublikasikan riset dari John Hopkins University: remaja-remaja yang memiliki kesempatan berbicara pada orangtua ternyata memiliki daya tahan mental lebih baik terhadap pengaruh lingkungan.
Tanyakanlah pada mereka yang tak pernah curhat pada orangtua, apakah mereka merasa 'dekat' dengan orangtuanya? Bagi sebagian kita juga, coba-coba ingat-ingat masa remaja Anda. Bagi sebagain kita yang curhat pada orangtua, bukankah ada perasaan tenang dan nyaman bukan? Sebaliknya bagi kita yang tak pernah curhat, bukankah sungguh tak enak memiliki orangtua tapi tak nyaman bicara pada orangtua?Lalu, bagaimana agar anak nyaman curhat pada kita, orangtuanya?
Pertama, orangtua harus memahami tipe apakah anaknya ini: periang atau pemalu? Pendekatan pada setiap anak dapat berbeda untuk membuat anak curhat. Anak-anak yang periang mungkin mudah untuk mengungkapkan perasaan dan pikirannya. Bahkan, sebagian anak ini, jika bicara hampir tanpa titik, berantai seperti kereta api. Agar anak curhat, orangtua tinggal membuat pertanyaan-pertanyaan terbuka dari cerita-cerita yang mungkin akan meluncur dari mulut anak-anaknya.
Tetapi bagi sebagian anak lain seperti anak pemalu, maka ia cenderung diam dan pasif. Ini terjadi karena ia cenderung menjadi ‘pengamat’ dari pada pembicara. Apalagi, anaknya cenderung hati-hati. Tapi, percayalah, berbicaralah adalah kebutuhan bagi semua orang, termasuk bagi anak-anak yang pendiam sekalipun. Hanya saja memang orangtua harus pandai memancing-mancing anak agar mau ‘bicara’.
Caranya, Anda lontarkan satu ‘kejadian’ yang mungkin menarik bagi anak untuk memancing perhatiannya. Saya sebut kejadian ini sebagai “even catching“. “Tadi Mama ketemu teman sebangku KK di sekolah, namanya siapa? Neni ya?” “Apa yang KK sukai dari Neni?” “Kenapa sih Adik suka banget sama pelajaran Bahasa Indonesia?” “Kak, apa yang membuat tadi kakak tertawa di sekolah, bagi dong sama Bunda.... “
Kedua, jika Anda menemukan anak murung atau seperti terlihat sedih karena ada masalah dan belum mau bercerita, tidak apa, jangan pernah dipaksa bicara. Semakin dipaksa semakin ‘otak reptil’ bekerja dan ia semakin menutup mulutnya. Anda cukup bicara “Mama senang jika Kakak mau bercerita.... Klo kakak mau bercerita mama siap mendengarkan”
Ketiga, jika Anda menemukan masalah anak atau anak telah bercerita tentang masalahnya dan ada ‘kontribusi’ akibat dari kelalaian anak itu sendiri, jangan pernah terburu-buru untuk mencoba menceramahi atau menggelontorkan nasihat-nasihat kepadanya. Biarkan ia bebas untuk mengungkapkan apa yang ia rasakan. Berikan pengertian Anda bahwa Anda mengerti perasaan mereka dan bahwa mungkin Anda pun faham betapa kecewanya jika berbuat lalai. Bahwa kita sungguh-sungguh mendengarkan perasaannya. Orang menyebutnya ini sebagai mendengar aktif.
Keempat, berikan kepercayaan kepadanya untuk bersama-sama mencari solusi atas permasalahan yang ia hadapi. Tentu saja, orangtua boleh membantu, tetapi sebaik-baiknya masalah yang dihadapi anak, anak sendiri yang menemukan solusi atas permasalahan yang ia hadapi. Orangtua sebaiknya berperan sebagai ‘fasilitator’. “Mama tau kamu sedih dengan nilai raportmu, kira-kira apa yang bisa kamu lakukan agar nilai kamu tambah baik?” “Ada tidak yang bisa mama Bantu dari ini?” Dengan ini, anak-anak dilatih untuk menjadi ‘problem solver’ minimum untuk dirinya sendiri atau setidaknya jika kita pun menawarkan bantuan, ia sendiri yang memutuskan di bagian manakah orangtuanya dapat membantu dirinya.
Kelima, kendalikan anak dari televisi. Menonton televisi yang berlebihan dapat membuat anak menjadi pasif. Kita tahu, saat anak nonton televisi ia lebih banyak diam dibandingkan dengan bergerak. Padahal saat bergerak, gerakan bagi anak-anak itu menstimulasi otaknya, kecerdasannya. Dengan anak pasif, ia hanya menerima, tidak aktif merespon. Otaknya jadi tak terlatih untuk berpikir dan dapat membuat mereka semakin sulit untuk mengeluarkan pikiran dan perasaannya. Satu jam sehari nonton televisi cukuplah sekadar untuk memuaskan anak-anak kita. Setidaknya itu yang dilakukan Madonna, artis Hollywood yang terkenal itu. Masak orangtua shalih kalah sama Madonna?
Keenam, berlatihlah. Orantua shalih, seharusnya semakin dewasa anak kita semakin sedikit kita bicara dan kita berikan anak-anak kita justru yang banyak bicara. Memang jika sebagian Anda “hobby” bicara terasa sulit. Tapi insya Allah dengan latihan menahan diri untuk tidak buru-buru mengungkapkan bahwa gagasan kita lebih baik dari pada anak-anak kita, kita akan semakin terlatih membuat anak kita bicara.
Ketujuh, Anda boleh mengungkapkan gagasan, pikiran dan perasaan Anda pada anak setelah anak bicara banyak. Saya terlalu sering bilang pada banyak orangtua pakailah rumus “undang anak bicara, baru kita bicara”. Tapi saat Anda bicara, please... jangan pernah membandingkan anak kita dengan siapapun agar anak berbuat baik. Terima ia apa adanya, fokus saja pada solusinya.
Kedelapan, gunakan waktu-waktu santai anak. Memilih waktu santai lebih efektif karena anak-anak dalam keadaan rileks pikirannya. Ia lebih nyaman untuk bicara dan bahkan mungkin bisa lebih nyaman untuk menerima pesan-pesan yang disampaikan orangtua.
Kesembilan, anti jaim alias jangan pernah jaga image di depan anak. Maksudnya pakailah bahasa tubuh dan ekspresi Anda saat Anda senyum, tertawa, sedih. Sertakan gerakan mata, ekspresi wajah, gerik-gerik tubuh Anda. Tetapi tak usah berlebihan dan hati-hati saat Anda merasa khawatir. Anda harus pandai mengendalikan diri Anda sendiri. Jangan sampai saat anak gadis Anda bicara “Ma aku gemetaran tanganku tadi di sekolah di pegang sama Cecep..”. Jangan sampai Anda justru yang gemetara dan berkeringat dingin di depan anak. Apalagi sampai pingsan di depan anak. Sungguh tak lucu bukan?
Jangan pernah dianggap bahwa kesembilan hal ini ribet. Curhat adalah hal yang sangat sederhana dan tidak memerlukan keterampilan seperti Anda bicara. Yang dibutuhkan dari Anda adalah mau tidak Anda menahan diri untuk tidak buru-buru menyalahkan, untuk tidak buru-buru melontarkan perasaan dan pikiran Anda. Ingat, membuat anak curhat adalah membuat mereka mengeluarkan pikiran dan perasaan mereka, bukan mengeluarkan perasaan dan pikiran Anda. Ingat, Allah menciptakan dua telinga dan satu mulut, makannya, sebenarnya mendengar curhat anak seharusnya lebih mudah daripada bicara pada anak.
Ditulis oleh Ihsan Baihaqi Ibnu Bukhari,Direktur Auladi Parenting School/Master Trainer Program Sekolah Pengasuhan Anak (PSPA)
Curhat, sarana yang sederhana, ternyata dapat membuat anak-anak kita bisa memiliki daya tahan mental lebih baik terhadap lingkungan (negatif). Setidaknya itu yang dipublikasikan riset dari John Hopkins University: remaja-remaja yang memiliki kesempatan berbicara pada orangtua ternyata memiliki daya tahan mental lebih baik terhadap pengaruh lingkungan.
Tanyakanlah pada mereka yang tak pernah curhat pada orangtua, apakah mereka merasa 'dekat' dengan orangtuanya? Bagi sebagian kita juga, coba-coba ingat-ingat masa remaja Anda. Bagi sebagain kita yang curhat pada orangtua, bukankah ada perasaan tenang dan nyaman bukan? Sebaliknya bagi kita yang tak pernah curhat, bukankah sungguh tak enak memiliki orangtua tapi tak nyaman bicara pada orangtua?Lalu, bagaimana agar anak nyaman curhat pada kita, orangtuanya?
Pertama, orangtua harus memahami tipe apakah anaknya ini: periang atau pemalu? Pendekatan pada setiap anak dapat berbeda untuk membuat anak curhat. Anak-anak yang periang mungkin mudah untuk mengungkapkan perasaan dan pikirannya. Bahkan, sebagian anak ini, jika bicara hampir tanpa titik, berantai seperti kereta api. Agar anak curhat, orangtua tinggal membuat pertanyaan-pertanyaan terbuka dari cerita-cerita yang mungkin akan meluncur dari mulut anak-anaknya.
Tetapi bagi sebagian anak lain seperti anak pemalu, maka ia cenderung diam dan pasif. Ini terjadi karena ia cenderung menjadi ‘pengamat’ dari pada pembicara. Apalagi, anaknya cenderung hati-hati. Tapi, percayalah, berbicaralah adalah kebutuhan bagi semua orang, termasuk bagi anak-anak yang pendiam sekalipun. Hanya saja memang orangtua harus pandai memancing-mancing anak agar mau ‘bicara’.
Caranya, Anda lontarkan satu ‘kejadian’ yang mungkin menarik bagi anak untuk memancing perhatiannya. Saya sebut kejadian ini sebagai “even catching“. “Tadi Mama ketemu teman sebangku KK di sekolah, namanya siapa? Neni ya?” “Apa yang KK sukai dari Neni?” “Kenapa sih Adik suka banget sama pelajaran Bahasa Indonesia?” “Kak, apa yang membuat tadi kakak tertawa di sekolah, bagi dong sama Bunda.... “
Kedua, jika Anda menemukan anak murung atau seperti terlihat sedih karena ada masalah dan belum mau bercerita, tidak apa, jangan pernah dipaksa bicara. Semakin dipaksa semakin ‘otak reptil’ bekerja dan ia semakin menutup mulutnya. Anda cukup bicara “Mama senang jika Kakak mau bercerita.... Klo kakak mau bercerita mama siap mendengarkan”
Ketiga, jika Anda menemukan masalah anak atau anak telah bercerita tentang masalahnya dan ada ‘kontribusi’ akibat dari kelalaian anak itu sendiri, jangan pernah terburu-buru untuk mencoba menceramahi atau menggelontorkan nasihat-nasihat kepadanya. Biarkan ia bebas untuk mengungkapkan apa yang ia rasakan. Berikan pengertian Anda bahwa Anda mengerti perasaan mereka dan bahwa mungkin Anda pun faham betapa kecewanya jika berbuat lalai. Bahwa kita sungguh-sungguh mendengarkan perasaannya. Orang menyebutnya ini sebagai mendengar aktif.
Keempat, berikan kepercayaan kepadanya untuk bersama-sama mencari solusi atas permasalahan yang ia hadapi. Tentu saja, orangtua boleh membantu, tetapi sebaik-baiknya masalah yang dihadapi anak, anak sendiri yang menemukan solusi atas permasalahan yang ia hadapi. Orangtua sebaiknya berperan sebagai ‘fasilitator’. “Mama tau kamu sedih dengan nilai raportmu, kira-kira apa yang bisa kamu lakukan agar nilai kamu tambah baik?” “Ada tidak yang bisa mama Bantu dari ini?” Dengan ini, anak-anak dilatih untuk menjadi ‘problem solver’ minimum untuk dirinya sendiri atau setidaknya jika kita pun menawarkan bantuan, ia sendiri yang memutuskan di bagian manakah orangtuanya dapat membantu dirinya.
Kelima, kendalikan anak dari televisi. Menonton televisi yang berlebihan dapat membuat anak menjadi pasif. Kita tahu, saat anak nonton televisi ia lebih banyak diam dibandingkan dengan bergerak. Padahal saat bergerak, gerakan bagi anak-anak itu menstimulasi otaknya, kecerdasannya. Dengan anak pasif, ia hanya menerima, tidak aktif merespon. Otaknya jadi tak terlatih untuk berpikir dan dapat membuat mereka semakin sulit untuk mengeluarkan pikiran dan perasaannya. Satu jam sehari nonton televisi cukuplah sekadar untuk memuaskan anak-anak kita. Setidaknya itu yang dilakukan Madonna, artis Hollywood yang terkenal itu. Masak orangtua shalih kalah sama Madonna?
Keenam, berlatihlah. Orantua shalih, seharusnya semakin dewasa anak kita semakin sedikit kita bicara dan kita berikan anak-anak kita justru yang banyak bicara. Memang jika sebagian Anda “hobby” bicara terasa sulit. Tapi insya Allah dengan latihan menahan diri untuk tidak buru-buru mengungkapkan bahwa gagasan kita lebih baik dari pada anak-anak kita, kita akan semakin terlatih membuat anak kita bicara.
Ketujuh, Anda boleh mengungkapkan gagasan, pikiran dan perasaan Anda pada anak setelah anak bicara banyak. Saya terlalu sering bilang pada banyak orangtua pakailah rumus “undang anak bicara, baru kita bicara”. Tapi saat Anda bicara, please... jangan pernah membandingkan anak kita dengan siapapun agar anak berbuat baik. Terima ia apa adanya, fokus saja pada solusinya.
Kedelapan, gunakan waktu-waktu santai anak. Memilih waktu santai lebih efektif karena anak-anak dalam keadaan rileks pikirannya. Ia lebih nyaman untuk bicara dan bahkan mungkin bisa lebih nyaman untuk menerima pesan-pesan yang disampaikan orangtua.
Kesembilan, anti jaim alias jangan pernah jaga image di depan anak. Maksudnya pakailah bahasa tubuh dan ekspresi Anda saat Anda senyum, tertawa, sedih. Sertakan gerakan mata, ekspresi wajah, gerik-gerik tubuh Anda. Tetapi tak usah berlebihan dan hati-hati saat Anda merasa khawatir. Anda harus pandai mengendalikan diri Anda sendiri. Jangan sampai saat anak gadis Anda bicara “Ma aku gemetaran tanganku tadi di sekolah di pegang sama Cecep..”. Jangan sampai Anda justru yang gemetara dan berkeringat dingin di depan anak. Apalagi sampai pingsan di depan anak. Sungguh tak lucu bukan?
Jangan pernah dianggap bahwa kesembilan hal ini ribet. Curhat adalah hal yang sangat sederhana dan tidak memerlukan keterampilan seperti Anda bicara. Yang dibutuhkan dari Anda adalah mau tidak Anda menahan diri untuk tidak buru-buru menyalahkan, untuk tidak buru-buru melontarkan perasaan dan pikiran Anda. Ingat, membuat anak curhat adalah membuat mereka mengeluarkan pikiran dan perasaan mereka, bukan mengeluarkan perasaan dan pikiran Anda. Ingat, Allah menciptakan dua telinga dan satu mulut, makannya, sebenarnya mendengar curhat anak seharusnya lebih mudah daripada bicara pada anak.
Sabtu, 23 Mei 2009
Kutunggu Keceriaanmu Kembali, nak!
Jam istirahat aku sempatkan untuk pulang melihat kondisi Raihan, ternyata kondisinya semakin lemah, wajahnya pucat dan matanya cekung. Bapak bilang sejak tadi dia menungguku dan akhirnya tertidur. Ketika bangun, aku memawarkan makan padanya,Raihan hanya menggeleng lemah. Nak, kamu kenap sih? Tidak biasanya kamu seperti ini. Kuputuskan untuk membawanya ke dokter sepulang kantor nanti.
Akhirnya untuk ketiga kalinya aku harus pasrah merelakan nadinya dialiri cairan infus. Dehidrasi akibat muntah dan kurangnya asupan membuat tindaka tersebut menjadi hal yang sangat masuk akal untuk segera dilakukan. Toh aku tidak ingin cairan tubuh pangeran kecilku terus menyusut yang pada akhirnya dapat mengganggu fungsi organnya. Pangeran kecilku ini memang hebat, aku khawatir pengalaman diinfus 2 bulan lalu akan membekaskan trauma, ternyata tidak terbukti. "Nak...diinfus lagi tidak apa-apa kan?" tanyaku sambil menunjuk perawat yang sedang mepersiapkan cairan infus. Raihan mengangguk mantap. Dan Raihan membuktikan ketegarannya ketika dokter menusukkan jarum infus ke nadinya, subhanallah, dia cuma meringis dan berkata lirih "sakit....", tetapi Raihan tetap tenang memperhatikan dokter dan perawat menyelesaikan tugas mereka. Kini, ketika botol cairan kedua masih separuh, Raihan mulai memperlihatkan senyumnya, sudah mulai minta makan meskipun sedikit, dan celotehan riangnya yang 2 hari ini tak terdengar kini mulai menyapa kami lagi. Semoga cepat pulih, nak.
RS Luramay 18
Akhirnya untuk ketiga kalinya aku harus pasrah merelakan nadinya dialiri cairan infus. Dehidrasi akibat muntah dan kurangnya asupan membuat tindaka tersebut menjadi hal yang sangat masuk akal untuk segera dilakukan. Toh aku tidak ingin cairan tubuh pangeran kecilku terus menyusut yang pada akhirnya dapat mengganggu fungsi organnya. Pangeran kecilku ini memang hebat, aku khawatir pengalaman diinfus 2 bulan lalu akan membekaskan trauma, ternyata tidak terbukti. "Nak...diinfus lagi tidak apa-apa kan?" tanyaku sambil menunjuk perawat yang sedang mepersiapkan cairan infus. Raihan mengangguk mantap. Dan Raihan membuktikan ketegarannya ketika dokter menusukkan jarum infus ke nadinya, subhanallah, dia cuma meringis dan berkata lirih "sakit....", tetapi Raihan tetap tenang memperhatikan dokter dan perawat menyelesaikan tugas mereka. Kini, ketika botol cairan kedua masih separuh, Raihan mulai memperlihatkan senyumnya, sudah mulai minta makan meskipun sedikit, dan celotehan riangnya yang 2 hari ini tak terdengar kini mulai menyapa kami lagi. Semoga cepat pulih, nak.
RS Luramay 18
Label:
rere
Jumat, 22 Mei 2009
What's wrong with u, son?
Tidak biasanya Raihan seperti ini. Celotehnya yang memenuhi seisi rumah, tingkahnya yang seringkali menggemaskan terkadang menjengkelkan, semuanya hilang . Biasanya dia aktif mengeksplorasi seluruh bagian rumah dan isinya, kini hanya berbaring di kasur yang kuletakkan di depan tivi sambil memeluk guling kesayangannya. Spongbobsquerpantspun tdk lagi menjadi hal menarik baginya. Kemarin pagi dia bangun dan muntah karena batuk. Muntah bukanlah hal yang menghawatirkan untuk Raihan. Sejak bayi, dia memang sering muntah, baik itu karena batuk atau karena kekenyangan. Tapi kemarin, sampai malam, Raihan muntah 5 kali, hal yang tidak biasa.Ada apa denganmu nak? Biasanya batuk bahkan demam tidak mengurangi keaktifan mu. Aaahh, mama rindu mendengar celotehanmu, mama ingin kau menarik-narik tangan mama sambil memperlihatkan sesuatu yang menurutmu menarik. Semoga sepulang kantor nanti mama bisa melihat keceriaanmu kembali.
Label:
rere
Selasa, 05 Mei 2009
Kurangkah Berat Badan Anakku ?
Tadi pagi saya ke TKIT Al-Bina untuk mendaftarkan Raihan masuk Kelompok Bermain. Kebetulan sekolah akan mengadakan kegiatan lomba mewarnai antar TK yang disponsori oleh salah satu produsen susu bubuk. Dan kebetulan lagi, pihak dari sponsor ada ditempat itu untuk membicarakan lomba yang akan diselenggarakan.
“Ini anak yang mau disekolahkan ya ? (sambil menunjuk Afifah yang sedang duduk manis di sampingku)” sapa seorang wanita yang kuduga perwakilan dari produsen susu dengan ramah.
“Bukan, ini sepupunya, anak saya sedang main di luar” jawab saya sembari menyunggingkan senyum.
“Anaknya berapa tahun, bu? “ tanya si mbak lagi.
“3 tahun”
“Tidak minum susu, ya?”
Hhhmm, saya mulai curiga nih.
“Minum susu UHT”
“Susu UHT ya ? Gizi susu UHT tidak cukup tuh, bu. Berat badan anak ibu kelihatannya kurang“
“Hah ?, gak sopan banget nih si mbak. Masa anakku dibilang kekurangan berat badan, berarti kurang gizi dong” batinku.
Seandainyapun anak saya beratnya kurang, sampaikanlah dengan sopan. Memang dia tahu berat badan Raihan? Kok bisa bilang anak saya kekurangan berat badan.
“Beratnya 15 kg, saya rasa itu sudah standar”
“3 tahun ya ? Waah, seharusnya 16 atau 17 “
Waduuh…belajar dari mana mba ? Setahu saya nih, pada umur 1 tahun berat badan anak adalah 3 kali berat lahir, terus pada umur 2,5 tahun menjadi 4 kali berat lahir, dan pada usia pra sekolah akan bertambah 2 kg setahun.
Naah, sekarang kita hitung ya !
Raihan lahir dengan berat 2,95 kg, pada usia 1 tahun beratnya 10 kg. Pada Usia 2 tahun beratnya 12 kg. Ketika Ultahnya yang ke 3, beratnya 14 kg. Sekarang usianya 3 tahun 4 bulan dan beratnya 15 kg.
Pake rumus standard deh ;
Berat Badan = 8 + 2nkg, n adalah umur anak
Jadi bera Raihan sekarang seharusnya : 8 + 2 (3,3) = 14,6 kg
Kurang kah ? Dari beberapa sumber yang saya baca sih, itu dalam batas normal. Berat badan anak baru dikatakan kurang jika hanya mencapai 80% dari berat rata-rata.
Kayaknya si mbak perlu lebih banyak belajar daripada sekedar mempromosikan produknya.
Belum cukup sampai di sini. Si mbak pun melanjutkan jurus promosi berikutnya.
“Kenapa tidak minum susu bubuk, bu?”
“Menurut saya, susu UHT jauh lebih baik. Ini menurut saya dan menurut beberapa bahan yang say baca, lho mbak. Pernah sih, saya beri susu bubuk (sambil menyebutkan merek susu yang pernah diminum Raihan), tapi sekarang saya beralih ke susu UHT”
“Ooooo, pantas berat badan anak ibu kurang, susu yang ibu sebutkan itu memang bisa membantu menaikkan berat badan anak, tapi tidak mengandung DHA. Kalau produk kami sudah mengandung DHA”
Mulai lagi deh si mbak menilai anak saya dan menurut saya itu sama juga dengan menilai pilihan saya membesarkan anak.
“Maaf, ya mbak. Menurut saya semua produk susu mengandung DHA, bahkan tubuh kita sendiri sudah memproduksinya. Jadi untuk apa tambahan DHA lagi. Bukankah segala kelebihan zat yang ada di tubuh itu akhirnya akan dibuang juga malah beberapa malah bisa merugikan. Dan susu UHT adalah yang terbaik.
“Tapi bener deh, berat badan anak ibu kurang coba aja datang ke sini ketika lomba, ibu akan memperoleh konsultasi gizi gratis”, promonya lagi
Capek deh………Masih aja si mbak ngeyel soal berat badan anak saya. Menyebalkan.
“Tidak, terima kasih, saya merasa anak saya sudah cukup gizinya. Perlu mbak tau, dia anak yang sangat aktif, posturnya juga lebih tinggi dari anak sesusianya, mungkin itu yang mengakibatkan anak saya kelihatan tidak segendut anak lainya. Tapi saya cukup puas dengan ini, sejauh ini, alhamdulillah dia sehat. Itu yang penting” jawab saya panjang menutup obrolan dengan si mbak.
Saya mengalihkan percakapan mengenai penadaftaran Raihan.
Terus terang, saya tidak habis pikir sama si mbak tadi. Sudah memvonis anak saya kekurangan berat badan, eee…. Masih juga menyalahkan saya karena memilih UHT untuk anak saya.
Setiap ibu pasti berusaha memberikan yang terbaik bagi anak-anaknya. Termasuk dalam pemilihan makanan, termasuk susu. Jika ada ibu yang memberikan susu bubuk merek terntu kepada anaknya, itu karena menurut mereka itulah yang terbaik. Bahkan jika ada yang memberikan susu kental manis untuk anaknya, mungkin itulah yang terbaik menurut si ibu. Terbaik di sini bisa berarti terbaik dalam nilai gizi dan terbaik dalam jangkauan keuangan keluarga. Semua itu tentunya tak lepas dari kemampuan membeli dan keluasan wawasan para ibu.
Jika menurut saya UHT adalah yang terbaik untuk anak saya selain kemampuan membeli saya, juga saya merasa itulah yang terbaik bagi anak saya. Berikut ini beberapa keunggulan susu UHT “
1. Daya simpannya yang sangat panjang pada susuh kamar yaitu mencapai 6-10 bulan tanpa bahan pengawet dan tidak perlu dimasukkan ke lemari pendingin. Jangka waktu ini lebih lama dari umur simpan produk susu cair lainnya seperti susu pasteurisasi. Selain itu susu UHT merupakan susu yang sangat higienis karena bebas dari seluruh mikroba (patogen/penyebab penyakit dan pembusuk) serta spora sehingga potensi kerusakan mikrobiologis sangat minimal, bahkan hampir tidak ada.
2. Kontak panas yang sangat singkat pada proses UHT menyebabkan mutu
sensori (warna, aroma dan rasa khas susu segar) dan mutu zat gizi,
relatif tidak berubah.
Proses pengolahan susu cair dengan teknik sterilisasi atau pengolahan menjadi susu bubuk sangat berpengaruh terhadap mutu sensoris dan mutu gizinya terutama vitamin dan protein.
3. Pengolahan susu cair segar menjadi susu UHT sangat sedikit pengaruhnya terhadap kerusakan protein. Di lain pihak kerusakan protein sebesar 30 persen terjadi pada pengolahan susu cair menjadi susu bubuk.
Kerusakan protein pada pengolahan susu dapat berupa terbentuknya pigmen coklat (melanoidin) akibat reaksi Mallard. Reaksi Mallard adalah reaksi pencoklatan non enzimatik yang terjadi antara gula dan protein susu akibat proses pemanasan yang berlangsung dalam waktu yang cukup lama seperti pada proses pembuatan susu bubuk. Reaksi pencoklatan tersebut penyebabkan menurunnya daya cerna protein.
4. Proses pemanasan susu dengan suhu tinggi dalam waktu yang cukup lama
juga dapat menyebabkan terjadinya rasemisasi asam-asam amino yaitu
perubahan konfigurasi asam amino dari bentuk L ke bentuk D. Tubuh
manusia umumnya hanya dapat menggunakan asam amino dalam bentuk L.
Dengan demikian proses rasemisasi sangat merugikan dari sudut pandang ketersediaan biologis asam-asam amino di dalam tubuh.
5. Reaksi pencoklatan (Mallard) dan rasemisasi asam amino telah berdampak kepada menurunnya ketersedian lisin pada produk-produk olahan susu.
Penurunan ketersediaan lisin pada susu UHT relatif kecil yaitu hanya mencapai 0-2 persen. Pada susu bubuk penurunannya dapat mencapai 5-10 persen.
Saya berharap si mbak banyak belajar, belajar mengenai hal-hal yang berkaitan dengan produknya, belajar menghargai pilihan orang, dan belajar berkomunikasi yang baik.
“Ini anak yang mau disekolahkan ya ? (sambil menunjuk Afifah yang sedang duduk manis di sampingku)” sapa seorang wanita yang kuduga perwakilan dari produsen susu dengan ramah.
“Bukan, ini sepupunya, anak saya sedang main di luar” jawab saya sembari menyunggingkan senyum.
“Anaknya berapa tahun, bu? “ tanya si mbak lagi.
“3 tahun”
“Tidak minum susu, ya?”
Hhhmm, saya mulai curiga nih.
“Minum susu UHT”
“Susu UHT ya ? Gizi susu UHT tidak cukup tuh, bu. Berat badan anak ibu kelihatannya kurang“
“Hah ?, gak sopan banget nih si mbak. Masa anakku dibilang kekurangan berat badan, berarti kurang gizi dong” batinku.
Seandainyapun anak saya beratnya kurang, sampaikanlah dengan sopan. Memang dia tahu berat badan Raihan? Kok bisa bilang anak saya kekurangan berat badan.
“Beratnya 15 kg, saya rasa itu sudah standar”
“3 tahun ya ? Waah, seharusnya 16 atau 17 “
Waduuh…belajar dari mana mba ? Setahu saya nih, pada umur 1 tahun berat badan anak adalah 3 kali berat lahir, terus pada umur 2,5 tahun menjadi 4 kali berat lahir, dan pada usia pra sekolah akan bertambah 2 kg setahun.
Naah, sekarang kita hitung ya !
Raihan lahir dengan berat 2,95 kg, pada usia 1 tahun beratnya 10 kg. Pada Usia 2 tahun beratnya 12 kg. Ketika Ultahnya yang ke 3, beratnya 14 kg. Sekarang usianya 3 tahun 4 bulan dan beratnya 15 kg.
Pake rumus standard deh ;
Berat Badan = 8 + 2nkg, n adalah umur anak
Jadi bera Raihan sekarang seharusnya : 8 + 2 (3,3) = 14,6 kg
Kurang kah ? Dari beberapa sumber yang saya baca sih, itu dalam batas normal. Berat badan anak baru dikatakan kurang jika hanya mencapai 80% dari berat rata-rata.
Kayaknya si mbak perlu lebih banyak belajar daripada sekedar mempromosikan produknya.
Belum cukup sampai di sini. Si mbak pun melanjutkan jurus promosi berikutnya.
“Kenapa tidak minum susu bubuk, bu?”
“Menurut saya, susu UHT jauh lebih baik. Ini menurut saya dan menurut beberapa bahan yang say baca, lho mbak. Pernah sih, saya beri susu bubuk (sambil menyebutkan merek susu yang pernah diminum Raihan), tapi sekarang saya beralih ke susu UHT”
“Ooooo, pantas berat badan anak ibu kurang, susu yang ibu sebutkan itu memang bisa membantu menaikkan berat badan anak, tapi tidak mengandung DHA. Kalau produk kami sudah mengandung DHA”
Mulai lagi deh si mbak menilai anak saya dan menurut saya itu sama juga dengan menilai pilihan saya membesarkan anak.
“Maaf, ya mbak. Menurut saya semua produk susu mengandung DHA, bahkan tubuh kita sendiri sudah memproduksinya. Jadi untuk apa tambahan DHA lagi. Bukankah segala kelebihan zat yang ada di tubuh itu akhirnya akan dibuang juga malah beberapa malah bisa merugikan. Dan susu UHT adalah yang terbaik.
“Tapi bener deh, berat badan anak ibu kurang coba aja datang ke sini ketika lomba, ibu akan memperoleh konsultasi gizi gratis”, promonya lagi
Capek deh………Masih aja si mbak ngeyel soal berat badan anak saya. Menyebalkan.
“Tidak, terima kasih, saya merasa anak saya sudah cukup gizinya. Perlu mbak tau, dia anak yang sangat aktif, posturnya juga lebih tinggi dari anak sesusianya, mungkin itu yang mengakibatkan anak saya kelihatan tidak segendut anak lainya. Tapi saya cukup puas dengan ini, sejauh ini, alhamdulillah dia sehat. Itu yang penting” jawab saya panjang menutup obrolan dengan si mbak.
Saya mengalihkan percakapan mengenai penadaftaran Raihan.
Terus terang, saya tidak habis pikir sama si mbak tadi. Sudah memvonis anak saya kekurangan berat badan, eee…. Masih juga menyalahkan saya karena memilih UHT untuk anak saya.
Setiap ibu pasti berusaha memberikan yang terbaik bagi anak-anaknya. Termasuk dalam pemilihan makanan, termasuk susu. Jika ada ibu yang memberikan susu bubuk merek terntu kepada anaknya, itu karena menurut mereka itulah yang terbaik. Bahkan jika ada yang memberikan susu kental manis untuk anaknya, mungkin itulah yang terbaik menurut si ibu. Terbaik di sini bisa berarti terbaik dalam nilai gizi dan terbaik dalam jangkauan keuangan keluarga. Semua itu tentunya tak lepas dari kemampuan membeli dan keluasan wawasan para ibu.
Jika menurut saya UHT adalah yang terbaik untuk anak saya selain kemampuan membeli saya, juga saya merasa itulah yang terbaik bagi anak saya. Berikut ini beberapa keunggulan susu UHT “
1. Daya simpannya yang sangat panjang pada susuh kamar yaitu mencapai 6-10 bulan tanpa bahan pengawet dan tidak perlu dimasukkan ke lemari pendingin. Jangka waktu ini lebih lama dari umur simpan produk susu cair lainnya seperti susu pasteurisasi. Selain itu susu UHT merupakan susu yang sangat higienis karena bebas dari seluruh mikroba (patogen/penyebab penyakit dan pembusuk) serta spora sehingga potensi kerusakan mikrobiologis sangat minimal, bahkan hampir tidak ada.
2. Kontak panas yang sangat singkat pada proses UHT menyebabkan mutu
sensori (warna, aroma dan rasa khas susu segar) dan mutu zat gizi,
relatif tidak berubah.
Proses pengolahan susu cair dengan teknik sterilisasi atau pengolahan menjadi susu bubuk sangat berpengaruh terhadap mutu sensoris dan mutu gizinya terutama vitamin dan protein.
3. Pengolahan susu cair segar menjadi susu UHT sangat sedikit pengaruhnya terhadap kerusakan protein. Di lain pihak kerusakan protein sebesar 30 persen terjadi pada pengolahan susu cair menjadi susu bubuk.
Kerusakan protein pada pengolahan susu dapat berupa terbentuknya pigmen coklat (melanoidin) akibat reaksi Mallard. Reaksi Mallard adalah reaksi pencoklatan non enzimatik yang terjadi antara gula dan protein susu akibat proses pemanasan yang berlangsung dalam waktu yang cukup lama seperti pada proses pembuatan susu bubuk. Reaksi pencoklatan tersebut penyebabkan menurunnya daya cerna protein.
4. Proses pemanasan susu dengan suhu tinggi dalam waktu yang cukup lama
juga dapat menyebabkan terjadinya rasemisasi asam-asam amino yaitu
perubahan konfigurasi asam amino dari bentuk L ke bentuk D. Tubuh
manusia umumnya hanya dapat menggunakan asam amino dalam bentuk L.
Dengan demikian proses rasemisasi sangat merugikan dari sudut pandang ketersediaan biologis asam-asam amino di dalam tubuh.
5. Reaksi pencoklatan (Mallard) dan rasemisasi asam amino telah berdampak kepada menurunnya ketersedian lisin pada produk-produk olahan susu.
Penurunan ketersediaan lisin pada susu UHT relatif kecil yaitu hanya mencapai 0-2 persen. Pada susu bubuk penurunannya dapat mencapai 5-10 persen.
Saya berharap si mbak banyak belajar, belajar mengenai hal-hal yang berkaitan dengan produknya, belajar menghargai pilihan orang, dan belajar berkomunikasi yang baik.
Label:
Raihan
Senin, 23 Maret 2009
Pengalaman Pertama Raihan ke Dokter Gigi
Beberapa hari belakangan ini Raihan sering mengeluh sakit gigi. Mungkin kebiasaannya makan coklat membuat giginya berlubang. Akhirnya aku membawanya ke dokter gigi tempat Rosa biasa mendapat perawatan gigi, sekalian ngecek gigi Rosa yang sudah banyak yang berganti gigi dewasa.
Untungnya tidak ada kesulitan mengajak Raihan ke dokter gigi. Tidak ada penolakan ketika kami bersiap-siap berangkat.
Raihan malah bilang “Nanti diperikas pake tetokkop” (stetoskop maksudnya)
Hehehe…sempat geli juga mendengarnya, bayangin aja gimana kalau dokter meriksa gigi pake stetoskop. Aku jelaskan saja, kalau dokter gigi itu memeriksa gigi pake cermin kecil yang dimasukin ke mulut. Eee, Raihan tetap ngotot
“Bukan, pake tetokkop”, balasnya.
“Kalau begitu, kita liat saja nanti “, jawabku mengalah.
Kami harus menunggu beberapa saat karena dokter belum datang. Akhirnya perawat memanggil kami masuk ke ruang praktek.
Raihan mendapat giliran pertama karena dialah yang bermasalah dengan giginya. Bapaknya mengangkatnya ke kursi pasien dan menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi. Seperti biasa, dokter meminta Raihan berkumur. Aku mengambil gelas air mineral dan mendekatkan ke bibirnya sambil memintanya untu berkumur. Raihanpun menyeruput air tersebut dan glek, ternyata ait tersebut diminumnya. Hmmmmm. Untung saja airnya, air mineral. Raihan memperhatikan dokter yang mulai memasang masker, sarung tangan, dan mengambil peralatannya.
Tibalah acara membuka mulut. Setelah dibujuk-bujuk, Raihan baru mau membuka mulutnya lebar-lebar. Sebuah cermin kecil bertangkai yang biasa digunakan dokter gigi untuk mengamati kondisi gigi pasien masuk ke mulut Raihan, dari bahasa tubuhnya, aku melihat penolakan di sana. Tapi dia tidak berkata apa-apa.
Ketika dokter mengambil peralatan berupa semprotan air kecil dan ingin memasukkan ke mulut Raihan, Raihan tiba-tiba mendorong tangan dokter dan bertanya
“Apa ini? Untuk apa?” sambil menangis.
“Ini semprot air, untuk membersihkan gigi Raihan”, jawab dokter lembut sambil memperlihatkan air yang terpancar dari alat tersebut.
“Sekarang buka mulutnya, ya”
Raihanpun membuka mulutnya, ada kecemasan di wajahnya. Mungkin yang ada di benaknya “Aku mau diapain nih, sakit ga ya?”
Kembali dokter mengambil peralatannya, kali ini semacam kait berujung runcing. Untuk kedua kalinya Raihan mendorong tangan dokter dan melontarkan pertanyaan yang sama “Apa ini ? Untuk apa?”
Terus seperti itu, setiap dokter memegang perlatan baru.
Ketika dokter membersihakan giginya yang berlubang kecil, Raihan meringis dan meminta aku memeluknya. Dokter kemudian menawarkan, apakah Raihan ingin dipangku. Akhirnya aku memangkunya, dan itu membuat Raihan menjadi lebih tenang. Dokterpun bisa menjalankan tugasnya dengan lebih lancar. Graham atas Raihan ditambal sementara. Fiuuuuh. Akhirnya seselesai juga. Sebelum turun dari kursi pasien, Raihan masih sempat menanyakan tombol merah di dekat gelas kumur.
“Apa itu yang warna merah ?”
Raihan, Raihan,……..semuanya tersenyum melihatnya.
Giliran berikutnya, Rosa. Ternyata si kakakpun minta dipangku, meskipun ini bukan kali pertama Rosa ke dokter gigi. Gigi geraham pertamya telah terganti, tetapi karena giginya rapuh, masih ada potongan geraham yang belum tercabut. Setelah mengamati kondisi gigi Rosa, dokter memberi kasa sterli yang diolesi obat seperti pasta gigi dengan wangi strawberi, dan meminta Rosa menggigitnya. Tunggu beberapa menit, kasa dilepaskan dan gigi kecil tadi siap-siap dicabut. Rosa cemas, itu kurasakan dari genggaman tangannya yang semakin kuat. Dokter mengambil peralatannya dan hup, dalam sekejap gigi kecil itu tercabut. Rosa sedikit mengerang. Terakhir, dokter memberikan kasa yang di tetesi antiseptic dan meminta Rosa menggigitnya. Selesai.
Raihan diminta kembali hari Senin jika giginya terasa sakit, jika tidak kami di minta membawanya kembali 10 hari setelahnya untuk mengganti tambalan sementara dengan yang permanen.
Raihan berjanji tidak akan nangis lagi pada kunjungan berikutnya, bahkan tidak ingin dipangku lagi.
Untungnya tidak ada kesulitan mengajak Raihan ke dokter gigi. Tidak ada penolakan ketika kami bersiap-siap berangkat.
Raihan malah bilang “Nanti diperikas pake tetokkop” (stetoskop maksudnya)
Hehehe…sempat geli juga mendengarnya, bayangin aja gimana kalau dokter meriksa gigi pake stetoskop. Aku jelaskan saja, kalau dokter gigi itu memeriksa gigi pake cermin kecil yang dimasukin ke mulut. Eee, Raihan tetap ngotot
“Bukan, pake tetokkop”, balasnya.
“Kalau begitu, kita liat saja nanti “, jawabku mengalah.
Kami harus menunggu beberapa saat karena dokter belum datang. Akhirnya perawat memanggil kami masuk ke ruang praktek.
Raihan mendapat giliran pertama karena dialah yang bermasalah dengan giginya. Bapaknya mengangkatnya ke kursi pasien dan menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi. Seperti biasa, dokter meminta Raihan berkumur. Aku mengambil gelas air mineral dan mendekatkan ke bibirnya sambil memintanya untu berkumur. Raihanpun menyeruput air tersebut dan glek, ternyata ait tersebut diminumnya. Hmmmmm. Untung saja airnya, air mineral. Raihan memperhatikan dokter yang mulai memasang masker, sarung tangan, dan mengambil peralatannya.
Tibalah acara membuka mulut. Setelah dibujuk-bujuk, Raihan baru mau membuka mulutnya lebar-lebar. Sebuah cermin kecil bertangkai yang biasa digunakan dokter gigi untuk mengamati kondisi gigi pasien masuk ke mulut Raihan, dari bahasa tubuhnya, aku melihat penolakan di sana. Tapi dia tidak berkata apa-apa.
Ketika dokter mengambil peralatan berupa semprotan air kecil dan ingin memasukkan ke mulut Raihan, Raihan tiba-tiba mendorong tangan dokter dan bertanya
“Apa ini? Untuk apa?” sambil menangis.
“Ini semprot air, untuk membersihkan gigi Raihan”, jawab dokter lembut sambil memperlihatkan air yang terpancar dari alat tersebut.
“Sekarang buka mulutnya, ya”
Raihanpun membuka mulutnya, ada kecemasan di wajahnya. Mungkin yang ada di benaknya “Aku mau diapain nih, sakit ga ya?”
Kembali dokter mengambil peralatannya, kali ini semacam kait berujung runcing. Untuk kedua kalinya Raihan mendorong tangan dokter dan melontarkan pertanyaan yang sama “Apa ini ? Untuk apa?”
Terus seperti itu, setiap dokter memegang perlatan baru.
Ketika dokter membersihakan giginya yang berlubang kecil, Raihan meringis dan meminta aku memeluknya. Dokter kemudian menawarkan, apakah Raihan ingin dipangku. Akhirnya aku memangkunya, dan itu membuat Raihan menjadi lebih tenang. Dokterpun bisa menjalankan tugasnya dengan lebih lancar. Graham atas Raihan ditambal sementara. Fiuuuuh. Akhirnya seselesai juga. Sebelum turun dari kursi pasien, Raihan masih sempat menanyakan tombol merah di dekat gelas kumur.
“Apa itu yang warna merah ?”
Raihan, Raihan,……..semuanya tersenyum melihatnya.
Giliran berikutnya, Rosa. Ternyata si kakakpun minta dipangku, meskipun ini bukan kali pertama Rosa ke dokter gigi. Gigi geraham pertamya telah terganti, tetapi karena giginya rapuh, masih ada potongan geraham yang belum tercabut. Setelah mengamati kondisi gigi Rosa, dokter memberi kasa sterli yang diolesi obat seperti pasta gigi dengan wangi strawberi, dan meminta Rosa menggigitnya. Tunggu beberapa menit, kasa dilepaskan dan gigi kecil tadi siap-siap dicabut. Rosa cemas, itu kurasakan dari genggaman tangannya yang semakin kuat. Dokter mengambil peralatannya dan hup, dalam sekejap gigi kecil itu tercabut. Rosa sedikit mengerang. Terakhir, dokter memberikan kasa yang di tetesi antiseptic dan meminta Rosa menggigitnya. Selesai.
Raihan diminta kembali hari Senin jika giginya terasa sakit, jika tidak kami di minta membawanya kembali 10 hari setelahnya untuk mengganti tambalan sementara dengan yang permanen.
Raihan berjanji tidak akan nangis lagi pada kunjungan berikutnya, bahkan tidak ingin dipangku lagi.
Melatih Si Kecil Tidak Ngompol
Umumnya anak mampu mengontrol BAK pada usia 2-3 tahun. Tetapi toilet training sudah dapat diajarkan ketika anak memasuki usia 18 bulan. Pada usia ini anak sudah memiliki keinginan untuk dapat mengontrol BAK. Jika toilet training dilakukan lebih awal, akan terjadi pemanjangan waktu belajar menjadi sampai dengan usia 4 tahun. Hal ini disebabkan karena anak belum meiliki keinginan untuk dirinya sehingga toilet training yang lebih cepat dapat menimbulkan trauma yang akan mengakibatkan perlambatan pencapaian tujuan.
Pada siang hari anak dibiasakan untuk BAK di toilet pada interval waktu tertentu, misalnya setiap 2 jam sekali atau tergantung kebiasaan anak. Semakin lama, interval waktu tersebut semakin panjang sehingga anak mampu menahan BAKnya.
Pada malam hari, biasakan anak ke toilet sebelum tidur. Kurangi minum sebelum tidur, kalau bisa kurangi minum susu di malam hari jika anak terbisa terbangun di malam hari untuk minum susu. Buat catatan kebiasaan BAK anak pada malam hari. Dengan berbekal catatan tersebut, bangunkan anak sebelum jadwal BAKnya tiba. Ajaklah untuk BAK di toilet dengan mengajaknya jalan meskipun setengah tertidur, tuntunlah tangannya untuk menurunkan sendiri celananya, dan tuntun memakainya kembali setelah BAK selesai. Hal ini berguna untuk menamkan ke alam bawah sadar anak bahwa jika ingin BAK di malam hari dia harus berjalan ke toilet dan membuka celananya. Diharapkan setelah pelatihan ini berhasil, anak akan bangun sendiri untuk BAK.
Beberapa hal yang dijelaskan di atas merupakan teori yang berasal dari berbagai sumber. Pada prakteknya, mungkin saja hal tersebut akan berhasil dengan mudah, tapi kemungkinan juga kita sebagai orang tua akan mengalami berbagai kendala tergantung karakteristik anak-anak kita yang memang berbeda-beda. Mau tidak mau dituntut kreativitas dari masing-masing orang tua.
Pengalaman saya sebagai ibu dari 2 orang anak, mungkin dapat menjadi sumber inspirasi. Menangani putri pertama saya sangat jauh berbeda dengan adiknya. Putri pertama saya sangat kuat minum susu, waktu itu ASI saya berikan sampai umurnya 4 bulan saja karena harus bekerja lagi. Saking kuatnya minum susu dia bisa BAK setiap jam. Toilet training mulai saya perkenalkan sejak usianya memasuki 9 bulan. Terlalu dini memang, tetapi frekwensi BAK yang terlalu sering membuat terlalu banyak celana yang diompoli, belum lagi dia seringkali beramain dengan ompolnya sendiri . Hal tersebut membuat saya mulai mengajaknya pipis di toilet pada usia yang sangat dini.
Jika siang, saya mengajaknya ke toilet setiap 1 jam sekali, itupun masih sering kecolongan, si kecil BAK sebelum 1 jam berikutnya. Tapi lama kelamaan jadi terlatih. Mulai dari setiap 1 jam, 1,5 jam, 2 jam, dst, sampai akhirnya dia bisa bicara dan bilang kalau ingin pipis. Ketika hendak mengajaknya ke toilet, saya mengatakan “mau pipis ya ?, yuk pipis di kamar mandi”. Ketika berumur 1,5 tahun dia menolak pakai diaper, sejak saat itu latihan ke toilet semakin gencar, apalagi ketika itu dia sudah lumayan lancar berbicara. Saya selalu mengingatkan untuk bilang kalau mau pipis. Tapi kadang bilang, kadang juga mulutnya belum sempat menyelesaikan kata-katanya ,pipis sudah mengalir ke lantai , apalagi kalau lagi asyik main. Waduuh, gak mudah ternyata. Karena kesabaran saya sudah mulai menipis, akhirnya saya buat perjanjian, kalau ngompol lagi hukumannya adalah satu kali cubitan di pantat. Sebenarnya tidak tega juga sih nyubit si kecil, tapi karena sudah dibuat kesepakatan, ya, hukuman itu harus dijalankan. Hukuman itu saya terapkan karena berpikir si kecil sebenarnya sudah tau kalau mau pipis tetapi ditahan karena keasyikan main.
Ternyata strategi saya tidak berhasil, hasilnya bukan kepatuhan malah si kecil mulai pintar mengelak. Kalau habis main saya mendapati celananya basah, dia malah bilang kalau tadi ketumpahan air waktu main. Padahal saya tahu bedanya basah karena air atau karena ompol. Pikirku, hukuman ternyata tidak cocok untuk kasus si kecil. Bagiku kejujuran adalah hal yang paling utama. Akhirnya kutegaskan sama si kecil “kalau adek pipis, bilang saja, tidak apa-apa koq, Mama tidak akan nyubit, yang penting adek jujur”. Pada akhirnya si kecil mengaku dan sayapun harus menepati janji. Sejak saat itu, kesepakatan kami tidak berlaku lagi. Kejadian itu membuat saya berpikir panjang kalau harus menerapkan hukuman fisik. Gak lagi, deh……..
Pada akhirnya saya harus menyadari bahwa memang dibutuhkan kesabaran ekstra untuk menangani si kecil. Stratagi semulapun mulai dijalankan lebih ketat. Setiap 2 jam saya bertanya pada si kecil apakah dia mau BAK untuk mengingatkan dan mengajar si kecil merasakan jika kandung kemihnya harus dikosongkan. Sabar dan telaten, itulah kuncinya. Tak perlu hukuman karena saat itu si kecil dalam tahap belajar.
Melatih untuk bangun BAK di malam hari jauh lebih berat. Si kecil sangat kuat minum susu pada malam hari, bisa terbangun 3 sampai 4 kali untuk minta susu. Sangat sulit untuk mengurangi konsumsi susunya di malam hari, yang ada si kecil malah ngamuk kalau permintaanya tidak dituruti. Otomatis pipisnya juga lebih sering, kan? Biasanya sebelum tidur si kecil minum sebotol susu itu berarti 1 jam setelah tertidur, saya harus mengajaknya ke toilet untuk BAK dan setiap jam setelah itu. Atau ketika si kecil terbangun untuk minta susu, saya mengajaknya ke toilet dulu. Setiap malam. waker harus disetel tiap jam. Kalau saya ketiduran, pasti deh tempat tidurnya basah. Untungnya saya masih memakaikan perlak sebagai alas tidur , jadi kasur tidak basah. Dan karena hal tersebut sudah saya lakukan sejak si kecil berumur 9 bulan, ketika waktu BAKnya tiba, saya mengangkat si keci ke toilet dan piss…,sambil merem-merem, si kecilpun pipis. Kabar baiknya, si kecil tidak pernah mengamuk jika dibagunkan untuk pipis, mungkin karena kandung kemihnya selalu terisi sehingga si kecil tidak pernah menolak di ajak pipis.
Sebelum usia 2 tahun si kecil tidak pernah ngompol lagi baik siang maupun malam hari.
Lain lagi ceritanya dengan putra keduaku. Sejak lahir dia tidak terlalu banyak minum ASI, setelah minum susu formulapun demikian. Makanya frekwensi BAKnya tidak terlalu sering, paling 3 atau 4 jam sekali. Tidak perlu usaha ekstra ketat karena interval BAKnya tidak terlau dekat. Toilet trainingpun baru saya kenalkan ketika si kecil berumur 1 tahun. Siang hari diajak ke toilet setiap 3-4 jam sekali atau ketika bangun tidur. Malam hari, paling dibangunkan 1 atau 2 kali. Karena alasan kepraktisan dan si kecil yang banyak gerak, dia tidur malam tanpa perlak tapi menggunakan diaper. Meskipun pakai diaper, si kecil tetap ku ajak ke toilet jika waktu BAKnya tiba. Berbeda debgan kakaknya (bukankah setiap anak memang beda?), si kecil terkadang tidak mau di ajak pipis kalaupun mau, kadang sambil nangis. Tetapi itu tidak menyurutkan saya untuk terus melatihnya. Si kecilpun berhenti ngompol di siang hari pada usia 1.5 tahun dan berhenti ngompol pada malam hari sebelum usianya genap 2 tahun.
Pada siang hari anak dibiasakan untuk BAK di toilet pada interval waktu tertentu, misalnya setiap 2 jam sekali atau tergantung kebiasaan anak. Semakin lama, interval waktu tersebut semakin panjang sehingga anak mampu menahan BAKnya.
Pada malam hari, biasakan anak ke toilet sebelum tidur. Kurangi minum sebelum tidur, kalau bisa kurangi minum susu di malam hari jika anak terbisa terbangun di malam hari untuk minum susu. Buat catatan kebiasaan BAK anak pada malam hari. Dengan berbekal catatan tersebut, bangunkan anak sebelum jadwal BAKnya tiba. Ajaklah untuk BAK di toilet dengan mengajaknya jalan meskipun setengah tertidur, tuntunlah tangannya untuk menurunkan sendiri celananya, dan tuntun memakainya kembali setelah BAK selesai. Hal ini berguna untuk menamkan ke alam bawah sadar anak bahwa jika ingin BAK di malam hari dia harus berjalan ke toilet dan membuka celananya. Diharapkan setelah pelatihan ini berhasil, anak akan bangun sendiri untuk BAK.
Beberapa hal yang dijelaskan di atas merupakan teori yang berasal dari berbagai sumber. Pada prakteknya, mungkin saja hal tersebut akan berhasil dengan mudah, tapi kemungkinan juga kita sebagai orang tua akan mengalami berbagai kendala tergantung karakteristik anak-anak kita yang memang berbeda-beda. Mau tidak mau dituntut kreativitas dari masing-masing orang tua.
Pengalaman saya sebagai ibu dari 2 orang anak, mungkin dapat menjadi sumber inspirasi. Menangani putri pertama saya sangat jauh berbeda dengan adiknya. Putri pertama saya sangat kuat minum susu, waktu itu ASI saya berikan sampai umurnya 4 bulan saja karena harus bekerja lagi. Saking kuatnya minum susu dia bisa BAK setiap jam. Toilet training mulai saya perkenalkan sejak usianya memasuki 9 bulan. Terlalu dini memang, tetapi frekwensi BAK yang terlalu sering membuat terlalu banyak celana yang diompoli, belum lagi dia seringkali beramain dengan ompolnya sendiri . Hal tersebut membuat saya mulai mengajaknya pipis di toilet pada usia yang sangat dini.
Jika siang, saya mengajaknya ke toilet setiap 1 jam sekali, itupun masih sering kecolongan, si kecil BAK sebelum 1 jam berikutnya. Tapi lama kelamaan jadi terlatih. Mulai dari setiap 1 jam, 1,5 jam, 2 jam, dst, sampai akhirnya dia bisa bicara dan bilang kalau ingin pipis. Ketika hendak mengajaknya ke toilet, saya mengatakan “mau pipis ya ?, yuk pipis di kamar mandi”. Ketika berumur 1,5 tahun dia menolak pakai diaper, sejak saat itu latihan ke toilet semakin gencar, apalagi ketika itu dia sudah lumayan lancar berbicara. Saya selalu mengingatkan untuk bilang kalau mau pipis. Tapi kadang bilang, kadang juga mulutnya belum sempat menyelesaikan kata-katanya ,pipis sudah mengalir ke lantai , apalagi kalau lagi asyik main. Waduuh, gak mudah ternyata. Karena kesabaran saya sudah mulai menipis, akhirnya saya buat perjanjian, kalau ngompol lagi hukumannya adalah satu kali cubitan di pantat. Sebenarnya tidak tega juga sih nyubit si kecil, tapi karena sudah dibuat kesepakatan, ya, hukuman itu harus dijalankan. Hukuman itu saya terapkan karena berpikir si kecil sebenarnya sudah tau kalau mau pipis tetapi ditahan karena keasyikan main.
Ternyata strategi saya tidak berhasil, hasilnya bukan kepatuhan malah si kecil mulai pintar mengelak. Kalau habis main saya mendapati celananya basah, dia malah bilang kalau tadi ketumpahan air waktu main. Padahal saya tahu bedanya basah karena air atau karena ompol. Pikirku, hukuman ternyata tidak cocok untuk kasus si kecil. Bagiku kejujuran adalah hal yang paling utama. Akhirnya kutegaskan sama si kecil “kalau adek pipis, bilang saja, tidak apa-apa koq, Mama tidak akan nyubit, yang penting adek jujur”. Pada akhirnya si kecil mengaku dan sayapun harus menepati janji. Sejak saat itu, kesepakatan kami tidak berlaku lagi. Kejadian itu membuat saya berpikir panjang kalau harus menerapkan hukuman fisik. Gak lagi, deh……..
Pada akhirnya saya harus menyadari bahwa memang dibutuhkan kesabaran ekstra untuk menangani si kecil. Stratagi semulapun mulai dijalankan lebih ketat. Setiap 2 jam saya bertanya pada si kecil apakah dia mau BAK untuk mengingatkan dan mengajar si kecil merasakan jika kandung kemihnya harus dikosongkan. Sabar dan telaten, itulah kuncinya. Tak perlu hukuman karena saat itu si kecil dalam tahap belajar.
Melatih untuk bangun BAK di malam hari jauh lebih berat. Si kecil sangat kuat minum susu pada malam hari, bisa terbangun 3 sampai 4 kali untuk minta susu. Sangat sulit untuk mengurangi konsumsi susunya di malam hari, yang ada si kecil malah ngamuk kalau permintaanya tidak dituruti. Otomatis pipisnya juga lebih sering, kan? Biasanya sebelum tidur si kecil minum sebotol susu itu berarti 1 jam setelah tertidur, saya harus mengajaknya ke toilet untuk BAK dan setiap jam setelah itu. Atau ketika si kecil terbangun untuk minta susu, saya mengajaknya ke toilet dulu. Setiap malam. waker harus disetel tiap jam. Kalau saya ketiduran, pasti deh tempat tidurnya basah. Untungnya saya masih memakaikan perlak sebagai alas tidur , jadi kasur tidak basah. Dan karena hal tersebut sudah saya lakukan sejak si kecil berumur 9 bulan, ketika waktu BAKnya tiba, saya mengangkat si keci ke toilet dan piss…,sambil merem-merem, si kecilpun pipis. Kabar baiknya, si kecil tidak pernah mengamuk jika dibagunkan untuk pipis, mungkin karena kandung kemihnya selalu terisi sehingga si kecil tidak pernah menolak di ajak pipis.
Sebelum usia 2 tahun si kecil tidak pernah ngompol lagi baik siang maupun malam hari.
Lain lagi ceritanya dengan putra keduaku. Sejak lahir dia tidak terlalu banyak minum ASI, setelah minum susu formulapun demikian. Makanya frekwensi BAKnya tidak terlalu sering, paling 3 atau 4 jam sekali. Tidak perlu usaha ekstra ketat karena interval BAKnya tidak terlau dekat. Toilet trainingpun baru saya kenalkan ketika si kecil berumur 1 tahun. Siang hari diajak ke toilet setiap 3-4 jam sekali atau ketika bangun tidur. Malam hari, paling dibangunkan 1 atau 2 kali. Karena alasan kepraktisan dan si kecil yang banyak gerak, dia tidur malam tanpa perlak tapi menggunakan diaper. Meskipun pakai diaper, si kecil tetap ku ajak ke toilet jika waktu BAKnya tiba. Berbeda debgan kakaknya (bukankah setiap anak memang beda?), si kecil terkadang tidak mau di ajak pipis kalaupun mau, kadang sambil nangis. Tetapi itu tidak menyurutkan saya untuk terus melatihnya. Si kecilpun berhenti ngompol di siang hari pada usia 1.5 tahun dan berhenti ngompol pada malam hari sebelum usianya genap 2 tahun.
Label:
kebiasaan si kecil
Langgan:
Entri (Atom)