<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-5626274581620625315</id><updated>2011-07-31T07:05:53.315+08:00</updated><category term='Raihan'/><category term='rere'/><category term='Rosa'/><category term='kebiasaan si kecil'/><category term='What&apos;s news'/><category term='family'/><title type='text'>Bunda Salsa's Blog</title><subtitle type='html'>Great Mom Wanna Be........</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://minilaiya.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5626274581620625315/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://minilaiya.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Rosmini Laiya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16247837907324159782</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_YkUydJpOuLw/TN5cHHhg4xI/AAAAAAAAAB8/tzZWIK25yDI/S220/IMG_0304.JPG'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>14</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5626274581620625315.post-2818185204693375673</id><published>2010-07-25T00:34:00.000+08:00</published><updated>2010-07-25T00:35:52.175+08:00</updated><title type='text'>Anak  Adalah Tanggung Jawab Orang Tua</title><content type='html'>Pekan lalu di sekolah Rosa diadakan pertemuan orang tua murid. Kebetulan Rosa bersekolah di sebuah Madrasah Ibtidaiyah yang pendidikannya berfokus pada Tahfidzul Qur’an. Seorang Bapak mengkritik sekolah karena anaknya yang baru saja naik ke kelas II sudah hafal banyak surah tetapi belum bisa ngaji. Di pihak lain, seorang Ibu  mengatakan bahwa itu bukan kesalahan sekolah, orang tualah yang punya kewajiban untuk mengajarkan anak membaca Al Qur’an. Akhirnya terjadi sedikit perdebatan diantara keduanya. Setelah perdebatan mereda, seorang Bapak berkata :&lt;br /&gt;“Saya menyekolahkan anak saya di sekolah ini, karena menurut saya sekolah inilah yang terbaik untuk mereka. Bahkan bila anak saya ditolak di sekolah ini, saya akan merengek kepada para guru agar  mau menerima mereka  bersekolah di sini. Seandainya saya punya banyak uang, saya akan membuat sekolah khusus untuk anak saya agar saya selamat di akhirat nanti, karena sayalah yang akan ditanyai mengenai anak-anak saya, bukan gurunya. Maka jika sekolah ini tidak memberikan segala sesuatu sesuai harapan saya, itu bukan kesalahan para guru. Semua itu adalah kesalahan saya sebagai orangtua yang memilihkan sekolah ini untuk mereka”.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Kurang lebih begitulah inti pembicaraannya. Dan setiap kalimat yang terucap dari mulutnya membuatku merenung. Betapa banyak orang tua yang menyalahkan guru ketika anaknya mengalami kesulitan dalam belajar. Sebagian orang tua (mungkin sayapun termasuk di dalamnya) menganggap bahwa ketika mereka memasukkan anak ke sekolah, membayar uang sekolah, dan membelikan segala perlengkapan belajar berarti tugasnya dalam mendidik anak telah beres. Orang tua hanya perlu menitipkan anak ke sekolah dan mereka tidak mau tahu lagi soal proses belajar mengajar  di sekolah  dan mereka berharap sekolah akan membentuk anak-anak mereka menjadi anak yang cerdas, shaleh, dll sesuai harapannya. Seolah-olah guru adalah makhluk luar biasa hebat  yang tahu segala hal dan harus tahu segalanya.   &lt;br /&gt;Terima kasih buat Abinya Jundi yang telah mengingatkan kami, khususnya saya, bahwa anak adalah tanggung jawab orang tua, apapun yang terjadi dengan mereka, orang tualah yang akan ditanya pada hari akhir nanti, bukan guru yang mengajar mereka di sekolah, bukan pula nenek, tante, atau baby sitter yang mengasuh mereka di rumah ketika orang tua bekerja dengan dalih demi anak-anak.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5626274581620625315-2818185204693375673?l=minilaiya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://minilaiya.blogspot.com/feeds/2818185204693375673/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5626274581620625315&amp;postID=2818185204693375673&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5626274581620625315/posts/default/2818185204693375673'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5626274581620625315/posts/default/2818185204693375673'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://minilaiya.blogspot.com/2010/07/anak-adalah-tanggung-jawab-orang-tua.html' title='Anak  Adalah Tanggung Jawab Orang Tua'/><author><name>Rosmini Laiya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16247837907324159782</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_YkUydJpOuLw/TN5cHHhg4xI/AAAAAAAAAB8/tzZWIK25yDI/S220/IMG_0304.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5626274581620625315.post-3226071918762103021</id><published>2010-05-20T16:46:00.002+08:00</published><updated>2010-05-20T16:51:28.353+08:00</updated><title type='text'>Yuk...Jadi Tempat Curhat Terbaik untuk Anak Kita !</title><content type='html'>Copas dari milis PSPA.... semoga bermanfaat....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditulis oleh Ihsan Baihaqi Ibnu Bukhari,Direktur Auladi Parenting School/Master Trainer Program Sekolah Pengasuhan Anak (PSPA)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Curhat, sarana yang sederhana, ternyata dapat membuat anak-anak kita bisa memiliki daya tahan mental lebih baik terhadap lingkungan (negatif). Setidaknya itu yang dipublikasikan riset dari John Hopkins University: remaja-remaja yang memiliki kesempatan berbicara pada orangtua ternyata memiliki daya tahan mental lebih baik terhadap pengaruh lingkungan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanyakanlah pada mereka yang tak pernah curhat pada orangtua, apakah mereka merasa 'dekat' dengan orangtuanya? Bagi sebagian kita juga, coba-coba ingat-ingat masa remaja Anda. Bagi sebagain kita yang curhat pada orangtua, bukankah ada perasaan tenang dan nyaman bukan? Sebaliknya bagi kita yang tak pernah curhat, bukankah sungguh tak enak memiliki orangtua tapi tak nyaman bicara pada orangtua?Lalu, bagaimana agar anak nyaman curhat pada kita, orangtuanya? &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Pertama, orangtua harus memahami tipe apakah anaknya ini: periang atau pemalu? Pendekatan pada setiap anak dapat berbeda untuk membuat anak curhat. Anak-anak yang periang mungkin mudah untuk mengungkapkan perasaan dan pikirannya. Bahkan, sebagian anak ini, jika bicara hampir tanpa titik, berantai seperti kereta api. Agar anak curhat, orangtua tinggal membuat pertanyaan-pertanyaan terbuka dari cerita-cerita yang mungkin akan meluncur dari mulut anak-anaknya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi bagi sebagian anak lain seperti anak pemalu, maka ia cenderung diam dan pasif. Ini terjadi karena ia cenderung menjadi ‘pengamat’ dari pada pembicara. Apalagi, anaknya cenderung hati-hati. Tapi, percayalah, berbicaralah adalah kebutuhan bagi semua orang, termasuk bagi anak-anak yang pendiam sekalipun. Hanya saja memang orangtua harus pandai memancing-mancing anak agar mau ‘bicara’. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Caranya, Anda lontarkan satu ‘kejadian’ yang mungkin menarik bagi anak untuk memancing perhatiannya. Saya sebut kejadian ini sebagai “even catching“. “Tadi Mama ketemu teman sebangku KK di sekolah, namanya siapa? Neni ya?” “Apa yang KK sukai dari Neni?” “Kenapa sih Adik suka banget sama pelajaran Bahasa Indonesia?” “Kak, apa yang membuat tadi kakak tertawa di sekolah, bagi dong sama Bunda.... “&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, jika Anda menemukan anak murung atau seperti terlihat sedih karena ada masalah dan belum mau bercerita, tidak apa, jangan pernah dipaksa bicara. Semakin dipaksa semakin ‘otak reptil’ bekerja dan ia semakin menutup mulutnya. Anda cukup bicara “Mama senang jika Kakak mau bercerita.... Klo kakak mau bercerita mama siap mendengarkan”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, jika Anda menemukan masalah anak atau anak telah bercerita tentang masalahnya dan ada ‘kontribusi’ akibat dari kelalaian anak itu sendiri, jangan pernah terburu-buru untuk mencoba menceramahi atau menggelontorkan nasihat-nasihat kepadanya. Biarkan ia bebas untuk mengungkapkan apa yang ia rasakan. Berikan pengertian Anda bahwa Anda mengerti perasaan mereka dan bahwa mungkin Anda pun faham betapa kecewanya jika berbuat lalai. Bahwa kita sungguh-sungguh mendengarkan perasaannya. Orang menyebutnya ini sebagai mendengar aktif. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat, berikan kepercayaan kepadanya untuk bersama-sama mencari solusi atas permasalahan yang ia hadapi. Tentu saja, orangtua boleh membantu, tetapi sebaik-baiknya masalah yang dihadapi anak, anak sendiri yang menemukan solusi atas permasalahan yang ia hadapi. Orangtua sebaiknya berperan sebagai ‘fasilitator’. “Mama tau kamu sedih dengan nilai raportmu, kira-kira apa yang bisa kamu lakukan agar nilai kamu tambah baik?” “Ada tidak yang bisa mama Bantu dari ini?” Dengan ini, anak-anak dilatih untuk menjadi ‘problem solver’ minimum untuk dirinya sendiri atau setidaknya jika kita pun menawarkan bantuan, ia sendiri yang memutuskan di bagian manakah orangtuanya dapat membantu dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelima, kendalikan anak dari televisi. Menonton televisi yang berlebihan dapat membuat anak menjadi pasif. Kita tahu, saat anak nonton televisi ia lebih banyak diam dibandingkan dengan bergerak. Padahal saat bergerak, gerakan bagi anak-anak itu menstimulasi otaknya, kecerdasannya. Dengan anak pasif, ia hanya menerima, tidak aktif merespon. Otaknya jadi tak terlatih untuk berpikir dan dapat membuat mereka semakin sulit untuk mengeluarkan pikiran dan perasaannya. Satu jam sehari nonton televisi cukuplah sekadar untuk memuaskan anak-anak kita. Setidaknya itu yang dilakukan Madonna, artis Hollywood yang terkenal itu. Masak orangtua shalih kalah sama Madonna?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keenam, berlatihlah. Orantua shalih, seharusnya semakin dewasa anak kita semakin sedikit kita bicara dan kita berikan anak-anak kita justru yang banyak bicara. Memang jika sebagian Anda “hobby” bicara terasa sulit. Tapi insya Allah dengan latihan menahan diri untuk tidak buru-buru mengungkapkan bahwa gagasan kita lebih baik dari pada anak-anak kita, kita akan semakin terlatih membuat anak kita bicara. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketujuh, Anda boleh mengungkapkan gagasan, pikiran dan perasaan Anda pada anak setelah anak bicara banyak. Saya terlalu sering bilang pada banyak orangtua pakailah rumus “undang anak bicara, baru kita bicara”. Tapi saat Anda bicara, please... jangan pernah membandingkan anak kita dengan siapapun agar anak berbuat baik. Terima ia apa adanya, fokus saja pada solusinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedelapan, gunakan waktu-waktu santai anak. Memilih waktu santai lebih efektif karena anak-anak dalam keadaan rileks pikirannya. Ia lebih nyaman untuk bicara dan bahkan mungkin bisa lebih nyaman untuk menerima pesan-pesan yang disampaikan orangtua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesembilan, anti jaim alias jangan pernah jaga image di depan anak. Maksudnya pakailah bahasa tubuh dan ekspresi Anda saat Anda senyum, tertawa, sedih. Sertakan gerakan mata, ekspresi wajah, gerik-gerik tubuh Anda. Tetapi tak usah berlebihan dan hati-hati saat Anda merasa khawatir. Anda harus pandai mengendalikan diri Anda sendiri. Jangan sampai saat anak gadis Anda bicara “Ma aku gemetaran tanganku tadi di sekolah di pegang sama Cecep..”. Jangan sampai Anda justru yang gemetara dan berkeringat dingin di depan anak. Apalagi sampai pingsan di depan anak. Sungguh tak lucu bukan? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan pernah dianggap bahwa kesembilan hal ini ribet. Curhat adalah hal yang sangat sederhana dan tidak memerlukan keterampilan seperti Anda bicara. Yang dibutuhkan dari Anda adalah mau tidak Anda menahan diri untuk tidak buru-buru menyalahkan, untuk tidak buru-buru melontarkan perasaan dan pikiran Anda. Ingat, membuat anak curhat adalah membuat mereka mengeluarkan pikiran dan perasaan mereka, bukan mengeluarkan perasaan dan pikiran Anda. Ingat, Allah menciptakan dua telinga dan satu mulut, makannya, sebenarnya mendengar curhat anak seharusnya lebih mudah daripada bicara pada anak.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5626274581620625315-3226071918762103021?l=minilaiya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://minilaiya.blogspot.com/feeds/3226071918762103021/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5626274581620625315&amp;postID=3226071918762103021&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5626274581620625315/posts/default/3226071918762103021'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5626274581620625315/posts/default/3226071918762103021'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://minilaiya.blogspot.com/2010/05/yukjadi-tempat-curhat-terbaik-untuk.html' title='Yuk...Jadi Tempat Curhat Terbaik untuk Anak Kita !'/><author><name>Rosmini Laiya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16247837907324159782</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_YkUydJpOuLw/TN5cHHhg4xI/AAAAAAAAAB8/tzZWIK25yDI/S220/IMG_0304.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5626274581620625315.post-5145373577202429580</id><published>2009-05-23T10:48:00.002+08:00</published><updated>2009-05-23T10:49:28.493+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='rere'/><title type='text'>Kutunggu Keceriaanmu Kembali, nak!</title><content type='html'>Jam istirahat aku sempatkan untuk pulang melihat kondisi Raihan, ternyata kondisinya semakin lemah, wajahnya pucat dan matanya cekung. Bapak bilang sejak tadi dia menungguku dan akhirnya tertidur. Ketika bangun, aku memawarkan makan padanya,Raihan hanya menggeleng lemah. Nak, kamu kenap sih? Tidak biasanya kamu seperti ini. Kuputuskan untuk membawanya ke dokter sepulang kantor nanti. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya untuk ketiga kalinya aku harus pasrah merelakan nadinya dialiri cairan infus. Dehidrasi akibat muntah dan kurangnya asupan membuat tindaka tersebut menjadi hal yang sangat masuk akal untuk segera dilakukan. Toh aku tidak ingin cairan tubuh pangeran kecilku terus menyusut yang pada akhirnya dapat mengganggu fungsi organnya. Pangeran kecilku ini memang hebat, aku khawatir pengalaman diinfus 2 bulan lalu akan membekaskan trauma, ternyata tidak terbukti. "Nak...diinfus lagi tidak apa-apa kan?" tanyaku sambil menunjuk perawat yang sedang mepersiapkan cairan infus. Raihan mengangguk mantap. Dan Raihan membuktikan ketegarannya ketika dokter menusukkan jarum infus ke nadinya, subhanallah, dia cuma meringis dan berkata lirih "sakit....", tetapi Raihan tetap tenang memperhatikan dokter dan perawat menyelesaikan tugas mereka. Kini, ketika botol cairan kedua masih separuh, Raihan mulai memperlihatkan senyumnya, sudah mulai minta makan meskipun sedikit, dan celotehan riangnya yang 2 hari ini tak terdengar kini mulai menyapa kami lagi. Semoga cepat pulih, nak. &lt;br /&gt; RS Luramay 18&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5626274581620625315-5145373577202429580?l=minilaiya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://minilaiya.blogspot.com/feeds/5145373577202429580/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5626274581620625315&amp;postID=5145373577202429580&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5626274581620625315/posts/default/5145373577202429580'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5626274581620625315/posts/default/5145373577202429580'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://minilaiya.blogspot.com/2009/05/kutunggu-keceriaanmu-kembali-nak.html' title='Kutunggu Keceriaanmu Kembali, nak!'/><author><name>Rosmini Laiya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16247837907324159782</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_YkUydJpOuLw/TN5cHHhg4xI/AAAAAAAAAB8/tzZWIK25yDI/S220/IMG_0304.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5626274581620625315.post-291468619341868851</id><published>2009-05-22T10:31:00.002+08:00</published><updated>2009-05-22T10:31:57.333+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='rere'/><title type='text'>What's wrong with u, son?</title><content type='html'>Tidak biasanya Raihan seperti ini. Celotehnya yang memenuhi seisi rumah, tingkahnya yang seringkali menggemaskan terkadang menjengkelkan, semuanya hilang . Biasanya dia aktif mengeksplorasi seluruh bagian rumah dan isinya, kini hanya berbaring di kasur yang kuletakkan di depan tivi sambil memeluk guling kesayangannya. Spongbobsquerpantspun tdk lagi menjadi hal menarik baginya. Kemarin pagi dia bangun dan muntah karena batuk. Muntah bukanlah hal yang menghawatirkan untuk Raihan. Sejak bayi, dia memang sering muntah, baik itu karena batuk atau karena kekenyangan. Tapi kemarin, sampai malam, Raihan muntah 5 kali, hal yang tidak biasa.Ada apa denganmu nak? Biasanya batuk bahkan demam tidak mengurangi keaktifan mu. Aaahh, mama rindu mendengar celotehanmu, mama ingin kau menarik-narik tangan mama sambil memperlihatkan sesuatu yang menurutmu menarik. Semoga sepulang kantor nanti mama bisa melihat keceriaanmu kembali.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5626274581620625315-291468619341868851?l=minilaiya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://minilaiya.blogspot.com/feeds/291468619341868851/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5626274581620625315&amp;postID=291468619341868851&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5626274581620625315/posts/default/291468619341868851'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5626274581620625315/posts/default/291468619341868851'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://minilaiya.blogspot.com/2009/05/whats-wrong-with-u-son.html' title='What&apos;s wrong with u, son?'/><author><name>Rosmini Laiya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16247837907324159782</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_YkUydJpOuLw/TN5cHHhg4xI/AAAAAAAAAB8/tzZWIK25yDI/S220/IMG_0304.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5626274581620625315.post-7928642116314777073</id><published>2009-05-05T21:58:00.000+08:00</published><updated>2009-05-05T22:08:43.126+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Raihan'/><title type='text'>Kurangkah Berat Badan Anakku ?</title><content type='html'>Tadi pagi saya ke TKIT Al-Bina untuk mendaftarkan Raihan masuk Kelompok Bermain. Kebetulan sekolah akan mengadakan kegiatan lomba mewarnai antar TK yang disponsori oleh salah satu produsen susu bubuk. Dan kebetulan lagi, pihak dari sponsor ada ditempat itu untuk membicarakan lomba yang akan diselenggarakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ini anak yang mau disekolahkan ya ? (sambil menunjuk Afifah yang sedang duduk manis di sampingku)” sapa seorang wanita yang kuduga perwakilan dari  produsen susu dengan ramah.&lt;br /&gt;“Bukan, ini sepupunya, anak saya sedang main di luar” jawab saya sembari menyunggingkan senyum.&lt;br /&gt;“Anaknya berapa tahun, bu? “ tanya si mbak lagi.&lt;br /&gt;“3 tahun”&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;“Tidak minum susu, ya?”&lt;br /&gt;Hhhmm, saya mulai curiga nih.&lt;br /&gt;“Minum susu UHT”&lt;br /&gt;“Susu UHT ya ? Gizi susu UHT  tidak cukup tuh, bu. Berat badan anak ibu kelihatannya kurang“&lt;br /&gt;“Hah ?, gak sopan banget nih si mbak. Masa anakku dibilang kekurangan berat badan, berarti kurang gizi dong” batinku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seandainyapun anak saya beratnya kurang, sampaikanlah dengan sopan. Memang dia tahu berat badan Raihan? Kok bisa bilang anak saya kekurangan berat badan.&lt;br /&gt;“Beratnya 15 kg, saya rasa itu sudah standar”&lt;br /&gt;“3 tahun ya ? Waah, seharusnya 16 atau 17 “&lt;br /&gt;Waduuh…belajar dari mana mba ? Setahu saya nih, pada umur 1 tahun berat badan anak adalah 3 kali berat lahir, terus pada umur 2,5 tahun menjadi 4 kali berat lahir, dan pada usia pra sekolah akan bertambah 2 kg setahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Naah, sekarang kita hitung ya !&lt;br /&gt;Raihan lahir dengan berat 2,95 kg, pada usia 1 tahun beratnya 10 kg. Pada Usia 2 tahun beratnya 12 kg. Ketika Ultahnya yang ke 3, beratnya 14 kg. Sekarang usianya 3 tahun 4 bulan dan beratnya 15 kg.  &lt;br /&gt;Pake rumus standard deh ;&lt;br /&gt;Berat Badan = 8 + 2nkg, n adalah umur anak&lt;br /&gt;Jadi bera Raihan sekarang seharusnya : 8 + 2 (3,3) = 14,6 kg&lt;br /&gt;Kurang kah ? Dari beberapa sumber yang saya baca sih, itu dalam batas normal. Berat badan anak baru dikatakan kurang jika hanya mencapai 80% dari berat rata-rata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kayaknya si mbak perlu lebih banyak belajar daripada sekedar mempromosikan produknya.&lt;br /&gt;Belum cukup sampai di sini. Si mbak pun melanjutkan jurus promosi berikutnya.&lt;br /&gt;“Kenapa tidak minum susu bubuk, bu?” &lt;br /&gt;“Menurut saya, susu UHT jauh lebih baik. Ini menurut saya dan menurut beberapa bahan yang say baca, lho mbak. Pernah sih, saya beri susu bubuk (sambil menyebutkan merek susu yang pernah diminum Raihan), tapi sekarang saya beralih ke susu UHT”&lt;br /&gt;“Ooooo, pantas berat badan anak ibu kurang, susu yang ibu sebutkan itu memang bisa membantu menaikkan berat badan anak, tapi tidak mengandung DHA. Kalau produk kami sudah mengandung DHA”&lt;br /&gt;Mulai lagi deh si mbak menilai anak saya dan menurut saya itu sama juga dengan menilai pilihan saya membesarkan anak.&lt;br /&gt;“Maaf, ya mbak. Menurut saya semua produk susu mengandung DHA, bahkan tubuh kita sendiri sudah memproduksinya. Jadi untuk apa tambahan DHA lagi. Bukankah segala kelebihan zat yang ada di tubuh itu akhirnya akan dibuang juga malah beberapa malah bisa merugikan. Dan susu UHT adalah yang terbaik. &lt;br /&gt;“Tapi bener deh, berat badan anak ibu kurang coba aja datang ke sini ketika lomba, ibu akan memperoleh konsultasi gizi gratis”, promonya lagi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Capek deh………Masih aja si mbak ngeyel soal berat badan anak saya. Menyebalkan.&lt;br /&gt;“Tidak, terima kasih, saya merasa anak saya sudah cukup gizinya. Perlu mbak tau, dia anak yang sangat aktif, posturnya juga lebih tinggi dari anak sesusianya, mungkin itu yang mengakibatkan anak saya kelihatan tidak segendut anak lainya. Tapi saya cukup puas dengan ini, sejauh ini, alhamdulillah dia sehat. Itu yang penting” jawab saya panjang menutup obrolan dengan si mbak.&lt;br /&gt;Saya mengalihkan percakapan mengenai penadaftaran Raihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terus terang, saya tidak habis pikir sama si mbak tadi. Sudah memvonis anak saya kekurangan berat badan, eee…. Masih juga menyalahkan saya karena memilih UHT untuk anak saya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap ibu pasti berusaha memberikan yang terbaik bagi anak-anaknya. Termasuk dalam pemilihan makanan, termasuk susu. Jika ada ibu yang memberikan susu bubuk merek terntu kepada anaknya, itu karena menurut mereka itulah yang terbaik. Bahkan jika ada yang memberikan susu kental manis untuk anaknya, mungkin itulah yang terbaik menurut si ibu. Terbaik di sini bisa berarti terbaik dalam nilai gizi dan terbaik dalam jangkauan keuangan keluarga. Semua itu tentunya tak lepas dari kemampuan membeli dan keluasan wawasan para ibu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika menurut saya UHT adalah yang terbaik untuk anak saya selain kemampuan membeli saya, juga saya merasa itulah yang terbaik bagi anak saya. Berikut ini beberapa keunggulan susu UHT “&lt;br /&gt;1. Daya simpannya yang sangat panjang pada susuh kamar yaitu mencapai 6-10 bulan tanpa bahan pengawet dan tidak perlu dimasukkan ke lemari pendingin. Jangka waktu ini lebih lama dari umur simpan produk susu cair lainnya seperti susu pasteurisasi. Selain itu susu UHT merupakan susu yang sangat higienis karena bebas dari seluruh mikroba (patogen/penyebab penyakit dan pembusuk) serta spora sehingga potensi kerusakan mikrobiologis sangat minimal, bahkan hampir tidak ada. &lt;br /&gt;2. Kontak panas yang sangat singkat pada proses UHT menyebabkan mutu &lt;br /&gt;sensori (warna, aroma dan rasa khas susu segar) dan mutu zat gizi, &lt;br /&gt;relatif tidak berubah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proses pengolahan susu cair dengan teknik sterilisasi atau pengolahan menjadi susu bubuk sangat berpengaruh terhadap mutu sensoris dan mutu gizinya terutama vitamin dan protein. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Pengolahan susu cair segar menjadi susu UHT sangat sedikit pengaruhnya terhadap kerusakan protein. Di lain pihak kerusakan protein sebesar 30 persen terjadi pada pengolahan susu cair menjadi susu bubuk. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerusakan protein pada pengolahan susu dapat berupa terbentuknya pigmen coklat (melanoidin) akibat reaksi Mallard. Reaksi Mallard adalah reaksi pencoklatan non enzimatik yang terjadi antara gula dan protein susu akibat proses pemanasan yang berlangsung dalam waktu yang cukup lama seperti pada proses pembuatan susu bubuk. Reaksi pencoklatan tersebut penyebabkan menurunnya daya cerna protein.&lt;br /&gt;4. Proses pemanasan susu dengan suhu tinggi dalam waktu yang cukup lama &lt;br /&gt;juga dapat menyebabkan terjadinya rasemisasi asam-asam amino yaitu &lt;br /&gt;perubahan konfigurasi asam amino dari bentuk L ke bentuk D. Tubuh &lt;br /&gt;manusia umumnya hanya dapat menggunakan asam amino dalam bentuk L. &lt;br /&gt;Dengan demikian proses rasemisasi sangat merugikan dari sudut pandang ketersediaan biologis asam-asam amino di dalam tubuh. &lt;br /&gt;5. Reaksi pencoklatan (Mallard) dan rasemisasi asam amino telah berdampak kepada menurunnya ketersedian lisin pada produk-produk olahan susu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penurunan ketersediaan lisin pada susu UHT relatif kecil yaitu hanya mencapai 0-2 persen. Pada susu bubuk penurunannya dapat mencapai 5-10 persen. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya berharap si mbak banyak belajar, belajar mengenai hal-hal yang berkaitan dengan produknya, belajar menghargai pilihan orang, dan belajar berkomunikasi yang baik.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5626274581620625315-7928642116314777073?l=minilaiya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://minilaiya.blogspot.com/feeds/7928642116314777073/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5626274581620625315&amp;postID=7928642116314777073&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5626274581620625315/posts/default/7928642116314777073'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5626274581620625315/posts/default/7928642116314777073'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://minilaiya.blogspot.com/2009/05/kurangkah-berat-badan-anakku.html' title='Kurangkah Berat Badan Anakku ?'/><author><name>Rosmini Laiya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16247837907324159782</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_YkUydJpOuLw/TN5cHHhg4xI/AAAAAAAAAB8/tzZWIK25yDI/S220/IMG_0304.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5626274581620625315.post-920304406687648609</id><published>2009-03-23T12:28:00.001+08:00</published><updated>2009-03-23T12:44:44.030+08:00</updated><title type='text'>Pengalaman Pertama Raihan ke Dokter Gigi</title><content type='html'>Beberapa hari belakangan ini Raihan sering mengeluh sakit gigi. Mungkin kebiasaannya makan coklat membuat giginya berlubang. Akhirnya aku membawanya ke dokter gigi tempat Rosa biasa mendapat perawatan gigi, sekalian ngecek gigi Rosa yang sudah banyak yang berganti gigi dewasa.&lt;br /&gt;Untungnya tidak ada kesulitan mengajak Raihan ke dokter gigi. Tidak ada penolakan ketika kami bersiap-siap berangkat. &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Raihan malah bilang “Nanti diperikas pake tetokkop”  (stetoskop maksudnya)&lt;br /&gt;Hehehe…sempat geli juga mendengarnya, bayangin aja gimana kalau dokter meriksa gigi pake stetoskop. Aku jelaskan saja, kalau dokter gigi itu memeriksa gigi pake cermin kecil yang dimasukin ke mulut. Eee, Raihan tetap ngotot&lt;br /&gt;“Bukan, pake tetokkop”, balasnya.&lt;br /&gt;“Kalau begitu, kita liat saja nanti “, jawabku mengalah.&lt;br /&gt; Kami harus menunggu beberapa saat karena dokter belum datang. Akhirnya perawat memanggil kami masuk ke ruang praktek. &lt;br /&gt; Raihan mendapat giliran pertama karena dialah yang bermasalah dengan giginya. Bapaknya mengangkatnya ke kursi pasien dan menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi. Seperti biasa, dokter meminta Raihan berkumur. Aku mengambil gelas air mineral dan mendekatkan ke bibirnya sambil memintanya untu berkumur. Raihanpun menyeruput air tersebut dan glek, ternyata ait tersebut diminumnya. Hmmmmm. Untung saja airnya, air mineral. Raihan memperhatikan dokter yang mulai memasang masker, sarung tangan, dan mengambil peralatannya.&lt;br /&gt; Tibalah acara membuka mulut. Setelah dibujuk-bujuk,  Raihan baru mau membuka mulutnya lebar-lebar. Sebuah cermin kecil bertangkai yang biasa digunakan dokter gigi untuk mengamati kondisi gigi pasien masuk ke mulut Raihan, dari bahasa tubuhnya, aku melihat penolakan di sana. Tapi dia tidak berkata apa-apa.&lt;br /&gt;  Ketika dokter mengambil peralatan berupa semprotan air kecil dan ingin memasukkan ke mulut Raihan, Raihan tiba-tiba mendorong tangan dokter dan bertanya&lt;br /&gt;“Apa ini? Untuk apa?” sambil menangis.&lt;br /&gt;“Ini semprot air, untuk membersihkan gigi Raihan”, jawab dokter lembut sambil memperlihatkan air yang terpancar dari alat tersebut.&lt;br /&gt;“Sekarang buka mulutnya, ya”&lt;br /&gt;Raihanpun membuka mulutnya, ada kecemasan di wajahnya. Mungkin yang ada di benaknya “Aku mau diapain nih, sakit ga ya?”&lt;br /&gt; Kembali dokter mengambil peralatannya, kali ini semacam kait berujung runcing. Untuk kedua kalinya Raihan mendorong tangan dokter dan melontarkan pertanyaan yang sama “Apa ini ? Untuk apa?” &lt;br /&gt;Terus seperti itu, setiap dokter memegang perlatan baru.&lt;br /&gt; Ketika dokter membersihakan giginya yang berlubang kecil, Raihan meringis dan meminta aku memeluknya. Dokter kemudian menawarkan, apakah Raihan ingin dipangku. Akhirnya aku memangkunya, dan itu membuat Raihan menjadi lebih tenang. Dokterpun bisa menjalankan tugasnya dengan lebih lancar. Graham atas Raihan ditambal sementara. Fiuuuuh. Akhirnya seselesai juga. Sebelum turun dari kursi pasien, Raihan masih sempat menanyakan tombol merah di dekat gelas kumur.&lt;br /&gt;“Apa itu yang warna merah ?”&lt;br /&gt;Raihan, Raihan,……..semuanya tersenyum melihatnya.&lt;br /&gt; Giliran berikutnya, Rosa. Ternyata si kakakpun minta dipangku, meskipun ini bukan kali pertama Rosa ke dokter gigi. Gigi geraham pertamya telah terganti, tetapi karena giginya rapuh, masih ada potongan geraham yang belum tercabut. Setelah mengamati kondisi gigi Rosa, dokter memberi kasa sterli yang diolesi obat seperti pasta gigi dengan wangi strawberi, dan meminta Rosa menggigitnya. Tunggu beberapa menit, kasa dilepaskan dan gigi kecil tadi siap-siap dicabut. Rosa cemas, itu kurasakan dari genggaman tangannya yang semakin kuat. Dokter mengambil peralatannya dan hup, dalam sekejap gigi kecil itu tercabut. Rosa sedikit mengerang. Terakhir, dokter memberikan kasa yang di tetesi antiseptic dan meminta Rosa menggigitnya. Selesai.&lt;br /&gt; Raihan diminta kembali hari Senin jika giginya terasa sakit, jika tidak kami di minta membawanya kembali 10 hari setelahnya untuk mengganti tambalan sementara dengan yang permanen.&lt;br /&gt;Raihan berjanji tidak akan nangis lagi pada kunjungan berikutnya, bahkan tidak ingin dipangku lagi. &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5626274581620625315-920304406687648609?l=minilaiya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://minilaiya.blogspot.com/feeds/920304406687648609/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5626274581620625315&amp;postID=920304406687648609&amp;isPopup=true' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5626274581620625315/posts/default/920304406687648609'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5626274581620625315/posts/default/920304406687648609'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://minilaiya.blogspot.com/2009/03/pengalaman-pertama-raihan-ke-dokter.html' title='Pengalaman Pertama Raihan ke Dokter Gigi'/><author><name>Rosmini Laiya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16247837907324159782</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_YkUydJpOuLw/TN5cHHhg4xI/AAAAAAAAAB8/tzZWIK25yDI/S220/IMG_0304.JPG'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5626274581620625315.post-2088178404131994518</id><published>2009-03-23T12:27:00.001+08:00</published><updated>2009-03-23T12:33:43.356+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kebiasaan si kecil'/><title type='text'>Melatih Si Kecil Tidak Ngompol</title><content type='html'>Umumnya anak mampu mengontrol BAK pada usia 2-3 tahun. Tetapi toilet training sudah dapat diajarkan ketika anak memasuki usia 18 bulan.  Pada usia ini anak sudah memiliki keinginan untuk dapat mengontrol BAK. Jika toilet training dilakukan lebih awal, akan terjadi pemanjangan waktu belajar menjadi sampai dengan usia 4 tahun. Hal ini disebabkan karena anak belum meiliki keinginan untuk dirinya sehingga toilet training yang lebih cepat dapat menimbulkan trauma yang akan mengakibatkan perlambatan pencapaian tujuan.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Pada siang hari anak dibiasakan untuk BAK di toilet pada interval waktu tertentu, misalnya setiap 2 jam sekali atau tergantung kebiasaan anak. Semakin lama, interval waktu tersebut semakin panjang sehingga anak mampu menahan BAKnya. &lt;br /&gt;Pada malam hari, biasakan anak ke toilet sebelum tidur. Kurangi minum sebelum tidur, kalau bisa kurangi minum susu di malam hari jika anak terbisa terbangun di malam hari untuk minum susu. Buat catatan kebiasaan BAK anak pada malam hari. Dengan berbekal catatan tersebut, bangunkan anak sebelum jadwal BAKnya tiba. Ajaklah untuk BAK di toilet dengan mengajaknya jalan meskipun setengah tertidur, tuntunlah tangannya untuk menurunkan sendiri celananya, dan tuntun memakainya kembali setelah BAK selesai. Hal ini berguna untuk menamkan ke alam bawah sadar anak bahwa jika ingin BAK di malam hari dia harus berjalan ke toilet dan membuka celananya. Diharapkan setelah pelatihan ini berhasil, anak akan bangun sendiri untuk BAK.&lt;br /&gt;Beberapa hal yang dijelaskan di atas merupakan teori yang berasal dari berbagai sumber. Pada prakteknya, mungkin saja hal tersebut akan berhasil dengan mudah, tapi kemungkinan juga kita sebagai orang tua akan mengalami berbagai kendala tergantung karakteristik anak-anak kita yang memang berbeda-beda. Mau tidak mau dituntut kreativitas dari masing-masing orang tua. &lt;br /&gt;Pengalaman saya sebagai ibu dari 2 orang anak, mungkin dapat menjadi sumber inspirasi. Menangani putri pertama saya sangat jauh berbeda dengan adiknya. Putri pertama saya sangat kuat minum susu, waktu itu ASI saya berikan sampai umurnya 4 bulan saja karena harus bekerja lagi. Saking kuatnya minum susu dia bisa BAK setiap jam. Toilet training mulai saya perkenalkan sejak usianya memasuki 9 bulan. Terlalu dini memang, tetapi frekwensi BAK yang terlalu sering membuat terlalu banyak celana yang diompoli, belum lagi dia seringkali beramain dengan ompolnya sendiri . Hal tersebut membuat saya mulai mengajaknya pipis di toilet pada usia yang sangat dini. &lt;br /&gt;Jika siang, saya mengajaknya ke toilet setiap 1 jam sekali, itupun masih sering kecolongan, si kecil BAK sebelum 1 jam berikutnya. Tapi lama kelamaan jadi terlatih. Mulai dari setiap 1 jam, 1,5 jam, 2 jam, dst, sampai akhirnya dia bisa bicara dan bilang kalau ingin pipis. Ketika hendak mengajaknya ke toilet, saya mengatakan “mau pipis ya ?, yuk pipis di kamar mandi”. Ketika berumur 1,5 tahun dia menolak pakai diaper, sejak saat itu latihan ke toilet semakin gencar, apalagi ketika itu dia sudah lumayan lancar berbicara. Saya selalu mengingatkan untuk bilang kalau mau pipis. Tapi kadang bilang, kadang juga mulutnya belum sempat menyelesaikan kata-katanya ,pipis sudah mengalir ke lantai , apalagi kalau lagi asyik main. Waduuh, gak mudah ternyata. Karena kesabaran saya sudah mulai menipis, akhirnya saya buat perjanjian, kalau ngompol lagi hukumannya adalah satu kali cubitan di pantat. Sebenarnya tidak tega juga sih nyubit si kecil, tapi karena sudah dibuat kesepakatan, ya, hukuman itu harus dijalankan. Hukuman itu saya terapkan karena berpikir si  kecil sebenarnya sudah tau kalau mau pipis tetapi ditahan karena keasyikan main. &lt;br /&gt;Ternyata strategi saya tidak berhasil, hasilnya bukan kepatuhan malah si kecil mulai pintar mengelak. Kalau habis main saya mendapati celananya basah, dia malah bilang kalau tadi ketumpahan air waktu main. Padahal saya tahu bedanya basah karena air atau karena ompol. Pikirku, hukuman ternyata tidak cocok untuk kasus si kecil. Bagiku kejujuran adalah hal yang paling utama. Akhirnya kutegaskan sama si kecil “kalau adek pipis, bilang saja, tidak apa-apa koq, Mama tidak akan nyubit, yang penting adek jujur”. Pada akhirnya si kecil mengaku dan sayapun harus menepati janji. Sejak saat itu, kesepakatan kami tidak berlaku lagi. Kejadian itu membuat saya berpikir panjang kalau harus menerapkan hukuman fisik. Gak lagi, deh……..&lt;br /&gt;Pada akhirnya saya harus menyadari bahwa memang dibutuhkan kesabaran ekstra untuk menangani si kecil. Stratagi semulapun mulai dijalankan lebih ketat. Setiap 2 jam saya bertanya pada si kecil apakah dia mau BAK untuk mengingatkan dan mengajar si kecil merasakan jika kandung kemihnya harus dikosongkan. Sabar dan telaten, itulah kuncinya. Tak perlu hukuman karena saat itu si kecil dalam tahap belajar. &lt;br /&gt;Melatih untuk bangun BAK di malam hari jauh lebih berat. Si kecil sangat kuat minum susu pada malam hari, bisa terbangun 3 sampai 4 kali untuk minta susu. Sangat sulit untuk mengurangi konsumsi susunya di malam hari, yang ada si kecil malah ngamuk kalau permintaanya tidak dituruti. Otomatis pipisnya juga lebih sering, kan? Biasanya sebelum tidur si kecil minum sebotol susu itu berarti 1 jam setelah tertidur, saya harus mengajaknya ke toilet untuk BAK dan setiap jam setelah itu. Atau ketika si kecil terbangun untuk minta susu, saya mengajaknya ke toilet dulu. Setiap malam. waker harus disetel tiap jam. Kalau saya ketiduran, pasti deh tempat tidurnya basah. Untungnya saya masih memakaikan perlak sebagai alas tidur , jadi kasur tidak basah. Dan karena hal tersebut sudah saya lakukan sejak si kecil berumur 9 bulan, ketika waktu BAKnya tiba, saya mengangkat si keci ke toilet dan piss…,sambil merem-merem, si kecilpun pipis. Kabar baiknya, si kecil tidak pernah mengamuk jika dibagunkan untuk pipis, mungkin karena kandung kemihnya selalu terisi sehingga si kecil tidak pernah menolak di ajak pipis.  &lt;br /&gt;Sebelum usia 2 tahun si kecil tidak pernah ngompol lagi baik siang maupun malam hari.&lt;br /&gt;Lain lagi ceritanya dengan putra keduaku. Sejak lahir dia tidak terlalu banyak minum ASI, setelah minum susu formulapun demikian. Makanya frekwensi BAKnya tidak terlalu sering, paling 3 atau 4 jam sekali. Tidak perlu usaha ekstra ketat karena interval BAKnya tidak terlau dekat. Toilet trainingpun baru saya kenalkan ketika si kecil berumur 1 tahun. Siang hari diajak ke toilet setiap 3-4 jam sekali atau ketika bangun tidur. Malam hari, paling dibangunkan 1 atau 2 kali. Karena alasan kepraktisan dan si kecil yang banyak gerak, dia tidur malam tanpa perlak tapi menggunakan diaper. Meskipun pakai diaper, si kecil tetap ku ajak ke toilet jika waktu BAKnya tiba. Berbeda debgan kakaknya (bukankah setiap anak memang beda?), si kecil terkadang tidak mau di ajak pipis kalaupun mau, kadang sambil nangis. Tetapi itu tidak menyurutkan saya untuk terus melatihnya. Si kecilpun berhenti ngompol di siang hari pada usia 1.5 tahun dan berhenti ngompol pada malam hari sebelum usianya genap 2 tahun.  &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5626274581620625315-2088178404131994518?l=minilaiya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://minilaiya.blogspot.com/feeds/2088178404131994518/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5626274581620625315&amp;postID=2088178404131994518&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5626274581620625315/posts/default/2088178404131994518'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5626274581620625315/posts/default/2088178404131994518'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://minilaiya.blogspot.com/2009/03/melatih-si-kecil-tidak-ngompol.html' title='Melatih Si Kecil Tidak Ngompol'/><author><name>Rosmini Laiya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16247837907324159782</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_YkUydJpOuLw/TN5cHHhg4xI/AAAAAAAAAB8/tzZWIK25yDI/S220/IMG_0304.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5626274581620625315.post-347268469992095972</id><published>2009-03-06T15:37:00.007+08:00</published><updated>2009-03-06T16:27:42.634+08:00</updated><title type='text'>Thank You Allah for Sent Me Ibu Maria</title><content type='html'>Menjadi ibu rumah tangga sekaligus pegawai kantoran seringkali membuat aku harus pontang-panting kejar-kejaran dengan waktu. Rasanya 24 jam dalam sehari masih belum cukup untuk mengurusi segala pekerjaan rumah tangga dan mengurus anak-anak. Akhir pekan yang seharusnya mejadi hari kumpul keluarga menjadi hari kerja bakti. Cucian yang numpuk, rumah yang berantkan, belum lagi harus kepasar, masak, dan menyiapkan bahan makanan untuk 1 pekan kedepan adalah jadwal tetap di akhir pekan. Kalaupun bela-belain meluangkan waktu untuk anak, terpksa sebagian pekerjaan rumah jadi terbengkalai.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;     Tapi itu dulu, sebelum aku punya khadimat. Tanggal 12 Pebruari 2009 saya resmi mempekerjakan seorang ibu untuk bantu-bantu pekerjaan rumah terutama mencuci pakaian, menyetrika, beres-beres rumah, dan yang paling penting ada yang nungguin Rosa di rumah.&lt;br /&gt;     Ibu Maria, begitu kami sekeluarga memanggilnya. Beliau tinggal di dekat rumah sehingga tidak perlu nginap di rumah kami. Tugas utamanya menemani Rosa di pagi hari ketika menunggu mobil jemputan sekolah. sambil menemani Rosa, si ibu membersihkan rumah, bebenah, dan mencuci. Setelah semua pelerjaan rumah selesai dan Rosa berangkat sekolah, Ibu Maria pulang ke rumah. Habis Ashar, ibu balik lagi ke rumah untuk menyetrika pakaian yang tadi pagi dicuci sambil menemani Rosa yang pulang sekolah jam 4 sore. Sengaja aku tidak mendelegasikan tugas memasak kepada Ibu Maria, karena untuk saat ini aku masih bisa menanganinya. Ibu Maria balik ke rumahnya setelah pulang kantor. Hari Minggu si ibu libur, bahkan hari Sabtupun aku liburin kalau semua cucian dan strikaan sudah beres.&lt;br /&gt;     Sejak ada ibu Maria aku merasa sangat terbantu. Akhir pekan bisa full untuk keluarga. Tidak ada lagi kerja bakti akhir pekan.&lt;br /&gt;     Dulu pulang sekolah, Rosa di antar ke rumah neneknya padahal jarak antara rumah dan sekolah hanya sekitar 500 meter. Sekarang, Rosa bisa langsung pulang ke rumah, mandi sore, dan melakukan kegiatan kesukaannya.&lt;br /&gt;     Hal lain yang berubah adalah kami jarang makan malam di luar karena begitu pulang kantor kami langsung pulang ke rumah tidak harus berlama-lama di rumah ibu ketika menjemput Rere yang memang dititip di sana Kami tidak ingin membiarkan Rosa menuggu lama di rumah. Jadinya, kami bisa nyampe rumah sebelum Magrib, dan aku bisa masak untuk makan malam keluarga.&lt;br /&gt;     Thank you Allah for sent me Ibu Maria, I feel manythings change in my life.&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5626274581620625315-347268469992095972?l=minilaiya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://minilaiya.blogspot.com/feeds/347268469992095972/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5626274581620625315&amp;postID=347268469992095972&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5626274581620625315/posts/default/347268469992095972'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5626274581620625315/posts/default/347268469992095972'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://minilaiya.blogspot.com/2009/03/thank-you-allah-for-sent-me-ibu-maria.html' title='Thank You Allah for Sent Me Ibu Maria'/><author><name>Rosmini Laiya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16247837907324159782</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_YkUydJpOuLw/TN5cHHhg4xI/AAAAAAAAAB8/tzZWIK25yDI/S220/IMG_0304.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5626274581620625315.post-6877385014568803838</id><published>2009-03-06T14:54:00.001+08:00</published><updated>2009-03-06T14:58:54.241+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='rere'/><title type='text'>GOOD BYE, BOTOL SUSUKU……….!</title><content type='html'>Salah satu hal yang sulit dalam proses pengasuhan anak adalah menghentikan kebiasaan yang telah berlangsung lama. Misalnya menghentikan kebiasaan minum susu menggunakan dot.&lt;br /&gt;Putra hebatku Raihan telah berhasil menghentikan kebiasaannya itu tepat pada ulang tahunnya yang ketiga tanggal 26 Januari lalu. Meskipun tidak langsung berhenti secara total, tetapi paling tidak pada siang hari Rere sudah minum susu menggunakan gelas.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya, menurut artikel yang pernah saya baca, sebaiknya kebiasaan minum susu menggunakan dot dihentikan sejak anak berumur 1,5 tahun karena setelah umur tersebut, anak akan lebih sulit untuk dipisahkan dari dotnya. Tapi, apa daya, aku tidak tega memisahkannya dari botol susunya pada usia tersebut, mengingat ketika berumur 1 bulan, Rere sempat kehilangan bobot tubuhnya sekitar 1,5 kilo karena tidak mau minu ASI. Apa lagi pengalaman kakaknya yang begitu berhenti minum susu dengan dot langsung stop minum susu dan tubuh montoknya terpaksa susut meskipun tidak terlampau signifikan.&lt;br /&gt;Setelah melihat perkembangan berat badan dan nafsu makannya yang semakin baik, mulailah aku memutuskan untuk memisahkannnya dengan dot pada ultahnya yang ketiga. Keputusan itu kuambil ketika umurnya sekitar 2,5 tahun.&lt;br /&gt;Sejak saat itu, aku mulai menyampaikan padanya “Raihan sekarang sudah besar, minum susunya di gelas saja ya?” Pertanyaan itu kadang dijawab dengan “ya” kadang juga dengan wajah cemberut pertanda penolakan. Bahkan meskipun jawabannya adalah “ya”, setelah susu siap di gelas, dia menolak meminumnya atau meminumnya sedikit saja dan setelah itu meminta saya untuk memindahkannya ke botol susunya. Kadang-kadang malah dia menyuruhku membuang susunya sambil ngamuk-ngamuk karena “minum susu di gelas ga enak”, begitu katanya.&lt;br /&gt;Jika salah satu usaha yang kulakukan tidak menunjukkan hasil, aku mencoba cara lain. Membelikan gelas bermoncong dengan gambar menarik ternyata tidak juga bisa mengalihkannya dari botol susunya. Kebetulan dia sering menggigit-gigit karet dotnya, aku menggunakan  itu untuk mengubah kebiasaan minum susunya. &lt;br /&gt;“Raihan, kalau karet dotnya putus, mama tidak mau membelikan lagi dot yang baru karena di toko tidak ada dijual karet dot untuk anak besar, Raihan kan sudah besar. Tidak seperti adek bayi yang minum susu pake dot”.&lt;br /&gt;Kalimat bujukan itu, dulu berhasil untuk kakaknya. Setelah karet dotnya putus, si kakak langsung meninggalkan botol susunya. &lt;br /&gt;Tapi memang setiap anak berbeda, ternyata cara itu tidak cukup ampuh untuk menghentikan kebiasaannya. Raihan malah semakin hati-hati dengan karet dotnya, bahkan sampai meninggalkan botol susunya, dot itu utuh. Lucu juga sih, padahal sebelumnya karet dotnya diganti setiap bulan karena hampir putus digigiti.&lt;br /&gt;Sambil mencoba-coba cara baru, aku takhenti-hentinya menekankan bahwa Rere sudah besar dan tidak memerlukan botol susunya lagi.&lt;br /&gt;Tidak mudah memang, diperlukan ekstra kesabaran, bahkan terkadang aku merasa hampir menyerah. &lt;br /&gt;Tepat pada ultahnya yang ketiga, aku mulai memisahkannya dengan dotnya pada siang hari. Pada malam hari aku memberinya dispensasi karena ketika tidur Rere masih sering terbagun untuk minta dibuatkan susu. Mulai saat itu, siang hari terutama ketika aku ada di rumah menjadi terasa berat melewatinya. &lt;br /&gt;Sebenarnya Senin sampai Jum’at, Rere aku titip di rumah neneknya, dan dia tidak pernah rewel,  karena botol susunya memang sudah dilenyapkan dari peredaran sehingga Rere beranggapan botolnya memang tidak ada, sehingga terpaksa harus minum susu dari gelas. Tapi jika sabtu dan minggu di rumah, hhhh, terpaksa aku harus beradu mulut dengannya karena dia terus memaksa untuk dibuatkan susu di botol. Untung saja aku tidak goyah oleh rayuan dan rengekannya. Meskipun sebenarnya gak tega melihatnya ngamuk-ngamuk dan menangis aku harus kuat, karena sekali saja aku mengalah, maka itu berarti aku harus mengulang dari awal dan itu juga berarti akan mengundur waktu untuk mengubah kebiasaan minum susunya. Paling aku hanya bisa memeluk dan menyeka air matanya dan menghiburnya.&lt;br /&gt;“Rere kan sudah besar, yang minum susu dari botol cuma adek bayi”, bujukku waktu itu.&lt;br /&gt;“Coba Rere berdiri”, diapun menurut dan berdiri di depanku.&lt;br /&gt;“Tuuh, sudah tinggi”, kemudian kuangkat Raihan ke dalam gendonganku&lt;br /&gt;“Aduuuh, berat sekali, memang anak mama sudah besar”&lt;br /&gt;Dan biasanya setelah dibujuk-bujuk, Raihanpun akan mengalah dan minta dibuatkan susu di gelas meskipun kadang tak disentuhnya sama sekali. Tetapi jika dia berhasil menghabiskan segelas susunya, aku tak lupa memujinya “anak pintar”.&lt;br /&gt;Suatu hari, sepupunya minum susu UHT. Mungkin karena sepupunya kelihatan sangat menikmati, diapun tertarik untuk minum. Ternyata Rere suka. Mulai saat itu aku membelikannya susu UHT, awalnya putih tetapi belakangan dia lebih suka yang coklat. Jadilah pada siang hari Rere minum susu UHT dan malamnya minum susu instant menggunakan dot. &lt;br /&gt;Entah kenapa, pada hari Sabtu 7 Pebruari lalu, ketika menjelang tidur Raihan minta diambilkan susu di gelas. Aku masih kaget, dan menanyakan kembali padanya&lt;br /&gt;“ Di gelas, nak” , dia hanya menganggukkan kepalanya tanda setuju.&lt;br /&gt;Betapa bahgianya aku saat itu, sebahagia ketika dia mulai mengkahkan kaki mungilnya untuk pertama kali. Kuangkat dua jempolku untuk memuji kemajuannya, dan sebelum beranjak ke dapur mengambil susu untuknya, aku tak lupa mendaratkan ciuman ke kedua pipinya seraya mengucapkan “anak pintar, sudah besar ya “, dan diapun tersenyum.&lt;br /&gt;Sejak saat itu, Raihan meninggalkan botol susunya untuk selama-lamanya. Awalnya aku khawatir susu coklat akan merusak giginya karena di minum pada malam hari , tetapi kusiasati dengan memberinya air putih setelah minum susu. Tapi ternyata kebiasaan itu tidak berlangsung lama. Sekarang , Raihan tidak pernah lagi bangun dimalam hari untuk minta susu. Siang haripun dia masih minum susu UHT sesukanya.&lt;br /&gt;Selamat buat Rere.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5626274581620625315-6877385014568803838?l=minilaiya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://minilaiya.blogspot.com/feeds/6877385014568803838/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5626274581620625315&amp;postID=6877385014568803838&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5626274581620625315/posts/default/6877385014568803838'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5626274581620625315/posts/default/6877385014568803838'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://minilaiya.blogspot.com/2009/03/good-bye-botol-susuku.html' title='GOOD BYE, BOTOL SUSUKU……….!'/><author><name>Rosmini Laiya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16247837907324159782</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_YkUydJpOuLw/TN5cHHhg4xI/AAAAAAAAAB8/tzZWIK25yDI/S220/IMG_0304.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5626274581620625315.post-393774684355251888</id><published>2008-09-11T14:25:00.000+08:00</published><updated>2008-09-11T14:34:05.262+08:00</updated><title type='text'>Plaak, Paha Rosapun Jadi Sasaran</title><content type='html'>Raihan, bocah 2,5 tahun ini sangat aktif. Tubuhnya selalu tak pernah berhenti bergerak seolah energy yang tersimpan di dalam tubuhnya tak ada habisnya. Paling suka main kejar-kejaran dan ngisengin orang. Makanya jangan heran kalau sementara bermain, tiba-tiba, pal aak, pukulannya melayang ke sepupu atau kakaknya yang sedang asyik membaca atau sekedar nyantai di depan tivi.&lt;br /&gt;Seperti malam itu, Raihan yang asyiik mengejar Kiki sepupunya tiba-tiba lewat di samping Rosa, dan, plaak, paha Rosapun jadi sasaran. Tentu saja, putri ku yang memang manja itu langsung mewek, huuuu…huuuu….Aku yang saat itu sedang membantu Ainun (keponakanku) bikin PR cuma bisa menghibur Rosa dan mengingatkan Raihan untuk tidak mengulangi perbuatannya. &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, namanya juga anak-anak, sekan tak mengerti peringatanku, belum 5 menit setelah kejadian pertama, Raihan kembali berusaha melayangkan pukulan ke kakaknya yang sedang nonton tivi. Untung saja, aku masih sempat menghalanginya. Dasar Raihan yang pantang menyerah, dia terus berusaha agar pukulannya tepat sasaran, tentu saja dengan tak kalah gigihnya aku menghalangi usahanya dengan menangkap tangannya. Tapi karena Raihan tak kunjung menyerah, akhirnya kutangkap tubuhnya, kududukkan dipangkuanku, dan kupeluk tubunnya erat-erat sambil menatap matanya dalam-dalam untuk menunjukkan bahwa aku tidak setuju dengan tindakannya. Tentu saja Raihan meronta, tetapi tetap saja kupeluk dan ku tatap matanya tanpa sepatah katapun. Raihan mulai menangis, tubuhnya sudah dibanjiri keringat. Pelukakanku tetap kurapatkan. Akhirnya dia berkata “Ma, au unta” untuk mengungkapkan bahwa dia ingin muntah. Memang Raihan sering kali muntah kalau kebanyakan menangis. Masih tanpa kata-kata, aku menggendongnya ke belakang untuk muntah. Eeh, ternyata tidak jadi. &lt;br /&gt;Tangisnyapu mulai mereda. Aku memberinya penjelasan bahwa jika Raihan tidak mau disakiti, jangan pernah menyakiti orang lain. Aku tiadak tahu dia mengerti dengan penjelasanku atau tidak, yang pasti aku sering mengulang kata-kata itu untuk menyampaikan padanya bahwa jika dia merasa sakit kalau dipukul, orang lainpun merasakan sakit yang sama. Aku tidak perlu memukulnya untuk memberinya pelajaran mengenai rasa sakit.  Toh dalam pelajarannya bersosialisi dengan anak lain, Raihan pernah merasakan bagaimana rasa sakit karena dipukul. Semoga seiring dengan perkembangan usianya, suatu saat nanti Raihan akan mengerti hal itu dan menghentikan kebiasaannya memukul anak lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rosmini Laiya&lt;br /&gt;Makassar, 11 September 2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5626274581620625315-393774684355251888?l=minilaiya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://minilaiya.blogspot.com/feeds/393774684355251888/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5626274581620625315&amp;postID=393774684355251888&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5626274581620625315/posts/default/393774684355251888'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5626274581620625315/posts/default/393774684355251888'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://minilaiya.blogspot.com/2008/09/plaak-paha-rosapun-jadi-sasaran.html' title='Plaak, Paha Rosapun Jadi Sasaran'/><author><name>Rosmini Laiya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16247837907324159782</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_YkUydJpOuLw/TN5cHHhg4xI/AAAAAAAAAB8/tzZWIK25yDI/S220/IMG_0304.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5626274581620625315.post-7836146173038319097</id><published>2008-09-10T08:48:00.004+08:00</published><updated>2008-09-11T09:59:53.310+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='What&apos;s news'/><title type='text'>Cinta Pada Orang Tua</title><content type='html'>Aku miris melihat salah satu adegan di sinetron Lorong Waktu 5 yang sekilas tertangkap olehku ketika bersiap-siap berangkat ke kantor tadi pagi. Seorang kakek tua sedang duduk di belakang sebuah meja kayu kecil dan menyendokkan makanannya dengan tangan yang bergetar sementara anak dan menantunya tengah menikmati makan malam mereka di sebuah meja makan yang bagus dan besar. Kakek tua itu menderita penyakit jantung yang diikuti stroke, akibatnya tangannya kurang mampu menyendokkan makanan ke mulut dan bahkan sering kali memcahkan piring dan gelasnya, pernah juga sampai muntah di meja makan. Hal tersebut membuat anak dan menantunya malu. Maka disediakanlah meja khusus untuk si kakek lengkap dengan peralatan makan dari pelastik yang tentu saja anti pecah. Astagfirullah……batinku.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Kejadian itu memang hanya sepenggal kisah sinetron yang mungkin rekaan belaka. Tapi bukan hal mustahil kalau kejadian tersebut ada di kehidupan nyata. &lt;br /&gt; Bagi yang sudah berumah tangga dan dikarunia anak mungkin sudah tau bagaimana repotnya mengurus anak. Tak terbayangkah bahwa orang tua kita juga serepot itu bahkan mungkin jauh lebih repot karena harus mengurusi 2,3, atau mungkin 5 orang anak sekaligus karena jarak antara anak satu dengan anak berikutnya hanya selisih 1 sampai 2 tahun ? Belum lagi sarana dan prasana waktu itu mungkin belum memadai, belum ada diaper, sehingga setiap habis pipis orang tua kita terutama ibu harus menggantikan celana dan mengepel bekas pipis di lantai. Belum lagi kalau anaknya ngompol di tempat tidur tentu tumpukan cucian akan bertambah. Itu hanya contoh kecil saja. Jasa mereka tek terbilang dan dengan sangat menakjubkan, mereka melakukan semuanya dengan tulus tanpa berharap imbalan sedikitpun.&lt;br /&gt; Aku sering membaca kisah tegar orangtua yang diberikan ujian melalui anak-anak mereka. Mulai dari mereka yang dikaruniai anak authis, cacat, kelainan mental, sampai penyakit langka. Tetapi dengan keikhlasan seorang ibu, mereka merawat anak-anak mereka dengan penuh kasih sayang, bahkan terkadang harus mengorbankan harta dan pekerjaan. Dan mereka tidak pernah malu di karunia anak-anak yang berbeda dengan anak lain. &lt;br /&gt; Aku berharap ketika orang tua ku memasuki usia senja mereka, kami anak-anaknya berada di dekat mereka. Menjaga dan merawat mereka. bagaimanapun keadaan mereka. Semoga Allah melimpahkan rahmat dan berkahNya yang tak putus kepada kedua orang tuaku yang juga tak pernah putus menyayangi kami anak-anaknya.&lt;br /&gt;Amiin…….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rosmini Laiya&lt;br /&gt;Makassar, 05 September 2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5626274581620625315-7836146173038319097?l=minilaiya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://minilaiya.blogspot.com/feeds/7836146173038319097/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5626274581620625315&amp;postID=7836146173038319097&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5626274581620625315/posts/default/7836146173038319097'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5626274581620625315/posts/default/7836146173038319097'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://minilaiya.blogspot.com/2008/09/aku-miris-melihat-salah-satu-adegan-di.html' title='Cinta Pada Orang Tua'/><author><name>Rosmini Laiya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16247837907324159782</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_YkUydJpOuLw/TN5cHHhg4xI/AAAAAAAAAB8/tzZWIK25yDI/S220/IMG_0304.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5626274581620625315.post-5054812233681795134</id><published>2008-09-01T10:19:00.002+08:00</published><updated>2008-09-10T11:37:01.230+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Rosa'/><title type='text'>OUT BOND and SUPERCAMP</title><content type='html'>Dua minggu lalu, Rosa, menyampaikan padaku bahwa sekolahnya akan menyelenggarakan perkemahan di Soppeng, salah satu kabupaten di Sulawesi Selatan, yang jaraknya kurang lebih 3 sampai 4 jam dari Makassar. Waktu itu Rosa bilang tidak mau ikut karena jaraknya yang terlalu jauh, lagipula anakku yang satu ini paling tidak bisa jauh dari aku. &lt;br /&gt;      Keesokan harinya Rosa mengadu tentang buku sosialnya yang hilang di sekolah. Aku menghiburnya dengan mengatakan bahwa mungkin bukunya tertinggal di sekolah atau tidak sengaja di bawa temannya. &lt;br /&gt;“Tapi bu, di dalamya ada yel-yel kelompok out bond Rosa !”&lt;br /&gt;“Biar saja, Rosa kan gak ikut”, timpalku &lt;br /&gt;“Rosa mau ikut, outbondnya tidak jadi di Soppeng tapi di Benteng Sombaopu“, rengeknya&lt;br /&gt;“Soalnya Pak Guru sudah ke Soppeng, lokasinya kotor kata Pak Guru”&lt;br /&gt;“Ya sudah, kalau begitu besok yel-yelnya dicatat ulang di sekolah”, saranku&lt;br /&gt;“Ibu senang kalau Rosa mau ikut kegiatan di sekolah, selain tambah pengalaman juga untuk melatih kemandirian Rosa”, jelasku memberinya semangat.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;      Outbond and Supercamp memang merupakan acara rutin yang diadakan sekolah Rosa stiap awal tahun ajaran, untuk mempererat persaudaraan di antara para siswa, melatih kemandirian, dan cinta lingkungan. Kegaiatannya banyak, ada acara api unggun, pertunjukan seni, nonton film, tilawah, shalat malam, dan puncaknya outbond yang di adakan keesokan harinya. Meskipun pengalaman tahun kemarin, setiap ada acara nginap entah itu di sekolah atau di alam terbuka, malamnya Rosa pasti nangis, aku tetap mendorongnya untuk ikut. Terima kasih buat bapak dan ibu guru Rosa yang sabar menghadapi Rosa pada saat nangis mencari ibunya. Bahkan meskipun setelah 4 kali ikut outbond cuma dua kali Rosa mau ikut flying fox, aku tetap memberinya semangat agar kali ini dia punya keberanian untuk kembali mencoba flying fox.    &lt;br /&gt;      Semua orang tua tentu ingin anaknya sempurna, melihat murid lain yang adem-adem aja kalau jauh dari orang tua membuatku ingin agar Rosa juga seperti itu. Melihat teman-teman Rosa yang berlomba-lomba ingin mencoba flying fox, juga membuat ingin melihat Rosa seperti mereka. Ada kekecewaan setiap pulang outbond Rosa bilang kalau dia tidak berani naik flying fox.&lt;br /&gt; Malam itu sudah pukul 21.00, kuambil surat pemberitahuan dari sekolah yang melampirkan jadwal acara perkemahan Rosa. &lt;br /&gt;21.30 Istirahat, berarti sebentar lagi Rosa tidur dan sampai detik ini belum ada telepon dari gurunya seperti biasa. Kuletakkan ponselku di sampingku, menunggu, sambil menonton tv. Jam di ponselku sudah menunjukkan pukul 22.00 tapi ponselku tak bordering. Fiuuh….aku bernafas lega, mungkin Rosa sudah terlelap di dalam tendanya. Akupun beranjak ke kamar, sebenarnya sejak tadi kantuk menyergapku, tapi kutahan, menunggu kalau-kalau ponselku tiba-tiba brdering. Sekarang aku yakin, Rosa, putri kecilku sudah bermimpi indah. Tidak sabar rasanya menunggu besok, ingin kucium pipinya sebagai hadiah dari kemanjuan yang diperlihatkannya.&lt;br /&gt;      Aku sengaja menjeputnya tepat pada saat seluruh rangkaian acara selesai. Berharap Rosa mau mencoba lagi flying fox, karena kalau aku ada pada saat kegiatan hight impact itu dilaksanakan Rosa pasti akan memelukku dengan erat dan enggan mendekati arena.&lt;br /&gt;      Sesampai di lokasi perkemahan, semua sudah bersiap-siap untuk pulang. Kulihat Rosa menuruni tangga rumah adat Gowa tempat peristirahatan mereka. Aku mendekatinya, dan kaliamat pertama yang diucapkannya adalah “Bu, saya tidak nangis tadi malam”, senyum mengembang dari bibirnya. Kuangkat jempolku seraya memujinya “anak hebat, begitu dong, Rosa sekarang sudah semakin besar, ya!”. Tak lupa kudaratkan ciuman ke pipinya. Rosa berlari menuju Bapaknya yang menunggu di motor karena Raihan tertidur dalam perjalanan tadi.&lt;br /&gt;“Oooo, pantas terlambat, adek bobo sih”, Rosa menyimpulkan sendiri keadaan yang dilihatnya. Mungkin tadi Rosa berharap kami datang lebih cepat.&lt;br /&gt;      Masih teringat bagaimana senangnya wajah Rosa ketika mengabarkan bahwa dia tidak menangis tadi malam. Mungkin aku berharap terlalu banyak pada gadis kecilku. Mungkin aku berharap sesuatu yang belum mampu dilakukannya. Seharusnya tidak kubandingkan Rosa dengan anak-anak lain. Bukankah setiap anak unik, dan setiap anak mempunyai kesiapan yang berbeda-beda untuk mempelajari dan untuk melakukan sesuatu. Mungkin sekarang adalah waktunya untuk selangkah lebih maju, tidak menangis di malam hari ketika jauh dari aku. Mungkin lain kali akan tiba waktunya dimana Rosa siap meniti jembatan tali, dan melakukan flying fox ketiganya. &lt;br /&gt;      Kadang-kadang sebagai orang tua, kita memaksa anak kita menjadi seperti ini atau menjadi seperti itu tanpa memikirkan apakah mereka mau, mampu, dan senang melakukannya. Terkadang tanpa kita sadari kita memaksa anak-anak untuk melakukan sesuatu untuk memenuhi ambisi kita. Sering kali kita membandingkan anak kita dengan anak lain, si anu bisa begini, kenapa anak kita tidak ? lalu memaksanya untuk menjadi seperti anak lain. Padahal setiap anak unik, mereka memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing, yang pasti setiap anak berbeda dengan ank lain.&lt;br /&gt;      Seharusnya itu kusadari sejak awal, tidak terlalu menuntut Rosa untuk melakukan flying fox. Rosa mau ikut kegiatan sekolah saja itu sudah lebih dari cukup, bukankah itu berarti Rosa mau belajar. Belajar tidur tanpa aku, belajar mandiri, dan mungkin belajar mengumpulkan keberanian untuk flaying fox berikutnya. Bagiku kini, tidak menangis ketika jauh dariku merupakan hal yang sangat berarti, tidak mengikuti flying foxpun bukan lagi hal yang mengecewakan bagiku. Apalah artinya tidak bisa flying fox, bukankah berani tidur di kamar sendiri pada pada usia 6 tahun adalah hal yang membanggakan ? Bukankah berani tampil di depan umum juga adalah hal yang tak kalah membanggakan, apalagi mengingat dulu Rosa sangat tidak pede kalau harus tampil di depan umum. Menjuarai lomba mewarnai di sekolah, masuk peringkat 3 besar di kelasnya, berani berenang di kolam renang dewasa, mulai berpuasa penuh pada umur 5 tahun, bisa shalat dengan sempurna baik sikap maupun bacaannya pada usia 6 tahun, bisa memandikan adiknya, dan banyak lagi hal lainnya yang dulunya bukan apa-apa bagiku kini menjadi sangat berarti. Bagiku semua itu merupakan prestasi bagi Rosa. Prestasi yang membanggakan.&lt;br /&gt;      Ternyata, sebagai orang tua saya masih harus banyak belajar. Belajar memahami anak, belajar melihat melalui mata kecil mereka, belajar merasa melalui hati mereka, dan berpikir melalui otak kecil mereka yang luar biasa. Bukan memaksa mereka mengerti dan memahami aku sebagai orang tua. Terima kasih, buat anak-anakku yang manis dan cerdas, melalui kalian, ibu belajar banyak hal. Ajarkan ibu lebih banyak lagi, agar ibu bisa memahami dunia kalian yang indah, penuh warna, dan penuh keceriaan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makassar, 01 September 2008&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5626274581620625315-5054812233681795134?l=minilaiya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://minilaiya.blogspot.com/feeds/5054812233681795134/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5626274581620625315&amp;postID=5054812233681795134&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5626274581620625315/posts/default/5054812233681795134'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5626274581620625315/posts/default/5054812233681795134'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://minilaiya.blogspot.com/2008/09/out-bond-and-supercamp.html' title='OUT BOND and SUPERCAMP'/><author><name>Rosmini Laiya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16247837907324159782</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_YkUydJpOuLw/TN5cHHhg4xI/AAAAAAAAAB8/tzZWIK25yDI/S220/IMG_0304.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5626274581620625315.post-7739584980983570839</id><published>2008-08-22T12:14:00.003+08:00</published><updated>2008-09-11T11:44:40.513+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='What&apos;s news'/><title type='text'>Anak Kecil Itu</title><content type='html'>Entah kenapa, tiba-tiba saja saya teringat dengan kejadian tadi pagi. Jalan menuju ke kantor yang biasanya lancar, sekarang jadi macet, mungkin ada suatu kejadian di depan sana. Suamiku terpaksa memperlambat laju motor mengikuti kendaraan lainnya yang merambat perlahan. Mendekati tempat kejadian, kulihat banyak orang berkumpul di tepi jalan. Ada seorang polisi yang berusaha mengamankan tempat kejadian dan seorang tampak mendorong sebuah motor yang penyok bagian belakangnya. Jalanpun semakin macet karena banyak yang ingin tahu apa yang sedang terjadi. Dan….Innalillah………,aku menjerit dalam hati, melihat seorang anak tergeletak di atas aspal dengan tubuh yang telah ditutupi kain sarung. Dari kaki yang menyembul dari bawah kain sarung, kuperkirakan anak itu laki-laki berumur sekitar 7 tahunan. Darah segar dari kepalanya menggenangi jalan tempatnya tergeletak. &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Meskipun sekilas, dapat kulihat serpihan tulang berbentuk pipih dan potongan-potongan kecil berwarna putih kemerahan terserak di sekitar lokasi. Saya tak tahu bagaimana kecelakaan itu terjadi. Tapi saya yakin kejadian itu pasti sangat dahsyat sehingga mampu menghancurkan kepala si anak dan mungkin anak itu meninggal seketika itu juga. Saat menyaksikan kejadian itu, saya tak merasa ngeri sedikitpun.&lt;br /&gt;Sekarang, setelah tiba di kantor dan setelah menyelesaikan beberapa pekerjaan yang kemarin sempat tertunda, kelebatan kejadian tadi pagi mulai menggangguku. Terbayang kembali sosok tubuh yang tergeletak di atas aspal, darah yang tegenang, serpihan tulang, semuanya begitu menggangguku. Mengingat semua itu, kepalaku terasa pusing dan ingin muntah. Orang tua si anak pasti sangat terpukul karena kejadian itu. Tuhan…,berikan kekuatan dan ketabahan kepada mereka……&lt;br /&gt;Saya jadi ingat keseharianku yang selalu berada di jalan. Aku, suami, dan anak-anak setiap hari keluar rumah bersama-sama naik motor. Si sulung ke sekolah, si bungsu di antar ke rumah ibu, sedang saya dan suami berangkat ke kantor setelah mengantar mereka. Sore, kadang-kadang malam harinya, kamipun sama-sama kembali ke rumah naik naik motor. Aku berdoa semoga Tuhan memberikan perlindunganNya kepada saya dan keluarga agar terhindar dari segala bahaya yang mengancam di jalan dan berharap kami juga tidak membahayakan orang lain. Allahumma amiin……&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;by Rosmini Laiya&lt;br /&gt;Makassar, 21 Agustus 2008&lt;br /&gt;12.54 Wita&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5626274581620625315-7739584980983570839?l=minilaiya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://minilaiya.blogspot.com/feeds/7739584980983570839/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5626274581620625315&amp;postID=7739584980983570839&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5626274581620625315/posts/default/7739584980983570839'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5626274581620625315/posts/default/7739584980983570839'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://minilaiya.blogspot.com/2008/08/anak-kecil-itu.html' title='Anak Kecil Itu'/><author><name>Rosmini Laiya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16247837907324159782</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_YkUydJpOuLw/TN5cHHhg4xI/AAAAAAAAAB8/tzZWIK25yDI/S220/IMG_0304.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5626274581620625315.post-7570391634324166033</id><published>2008-07-20T08:21:00.001+08:00</published><updated>2008-08-26T15:02:55.073+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='family'/><title type='text'>My Family</title><content type='html'>&lt;div xmlns="http://www.w3.org/1999/xhtml"&gt;&lt;a href="http://bp0.blogger.com/_6o7hohxTMxI/SIKFKcoDNpI/AAAAAAAAAAM/YZ1cvBUMfDY/s1600-h/image-upload-27-720481.jpg"&gt;&lt;img src="http://bp0.blogger.com/_6o7hohxTMxI/SIKFKcoDNpI/AAAAAAAAAAM/YZ1cvBUMfDY/s320/image-upload-27-720481.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:+0;"&gt;Bapak, Rosa, n Raihan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Mereka adalah anggota keluargaku. Yang tengah Aswin Usman, suami tercinta, bekerja sebagai seorang security di Bank Mandiri, baik, pengertian, dan yang pasti sayang sama saya. Yang sebelah kiri, putri pertamaku, Nadiyah Rosa Salsabila, umurnya 7 tahun 5 bulan, duduk di kelas 2 SD, cerdas tapi kurang pede, paling suka renang, dan agak tomboy. Nah, yang sebelah kiri, namanya Muhammad Raihan Habibillah, 2 tahun 7 bulan, cerdas, cerewet meskipun masih cadel, dan paling suka main sepeda. Mereka adalah penyemangat hidupku.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5626274581620625315-7570391634324166033?l=minilaiya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://minilaiya.blogspot.com/feeds/7570391634324166033/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5626274581620625315&amp;postID=7570391634324166033&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5626274581620625315/posts/default/7570391634324166033'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5626274581620625315/posts/default/7570391634324166033'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://minilaiya.blogspot.com/2008/07/tri-in-one.html' title='My Family'/><author><name>Rosmini Laiya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16247837907324159782</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_YkUydJpOuLw/TN5cHHhg4xI/AAAAAAAAAB8/tzZWIK25yDI/S220/IMG_0304.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp0.blogger.com/_6o7hohxTMxI/SIKFKcoDNpI/AAAAAAAAAAM/YZ1cvBUMfDY/s72-c/image-upload-27-720481.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
